Pesan Kematian

“Kamu bisa bersandar pada agama kan!”

“Agama apa yang pantas dipegang jika hanya dijadikan senjata untuk kemenangan atau sebagai tombak untuk saling tikam antarsaudara.”

“Kau harus yakin.”

“Aku lebih yakin mati muda lebih baik.”

Kau mengangguk. Niatmu makin mantap setelah orang tuamu merampas semua HP-mu. Mereka pikir HP-lah yang membuat sikapmu berubah.

Orang tuamu makin gelisah saat berkali-kali mendapatimu hendak bunuh diri. Entah sudah berapa kali aku dan orang tuamu menghalangi kau minum racun, gantung diri, dan beberapa usaha lain. Terakhir kau hendak memotong nadi di pergelangan tanganmu. Untung, ibumu menarik tanganmu, lalu merampas dan melempar pisau dapur itu. Kau mendorong ibumu hingga tersungkur dan buru-buru meraih pisau itu.Untung, bapakmu datang dan menendang pisau itu ke bawah meja. Setelah kejadian itu mereka mengikat tangan dan kakimu dengan rantai dan mengurungmu di kamar.

Dikurung di kamar tidak membuatmu gila. Aku melihat matamu tidak kosong. Kau sering menyendiri bukan? Bahkan tidak punya banyak teman sudah kaujalani. Barangkali hanya HP satu-satunya alasan kau akan kesepian. Jadi kau akan kehilangan kebiasaan bermain di dunia maya. Jika kau berteriak, aku yakin bukan meminta dilepas, melainkan meminta HP agar tidak bosan. Namun orang tuamu sudah kepalang takut. Padahal, kau masih bisa menjawab dengan normal jika ditanya. Dan, kau tidak tertawa seperti kebanyakan orang gila.

“Apa kau masih ingin mati muda?”

Kau diam.

“Maafkan aku,” suaramu terbata-bata.

Arsip Cerpen di Indonesia