Namun setelah nonton film The Age of Adaline yang berkisah tentang orang yang tidak tua-tua karena tersambar petir, kau makin bingung. “Aku tidak ingin melihat orang tuaku atau anakku menjadi tua.” Kau mulai diperbudak film sains fiksi itu.
Orang tuamu merasa aneh atas sikapmu akhir-akhir ini. Mereka bertanya-tanya tentang sikapmu yang makin hari kian jadi pendiam. Kubilang itu hanya gejala anak muda yang mulai dewasa. Namun mereka tidak yakin, meski mengangguk.
Kau makin sayang pada orang tuamu dan makin tidak ingin mati tua setelah mendapati kakek belakang rumahmu meninggal di kamarnya tanpa diketahui sang anak. Kau melihat kakek itu kaku dan susah disedekapkan.
“Kenapa sampai tidak diketahui dan sampai kaku seperti itu?”
Aku tidak menjawab pertanyaanmu. Pertanyaan itu di luar pemahamanku.
“Kenapa anak-cucunya tidak begitu sedih? Hanya istrinya yang merasa kehilangan dengan isak sesal yang tak mampu dikendalikan.”
Kau makin yakin mati tua adalah kematian menyedihkan. Malam itu, aku melihat air matamu menetes, meski dengan cepat kauusap dengan ujung baju. Kau makin sedih saat mengingat pembicaraan orang tentang kelakuan kakek itu yang buruk.
“Mati tua hanya makin tambah dosa.”
“Kau bisa sejak sekarang melakukan hal-hal baik dan menghindari hal-hal buruk. Segala kau yang atur.”
“Bagaimana caranya menghindari dunia yang bertabur fitnah dan menyodorkan gambar tidak senonoh dan kemunafikan orang-orang di media sosial ini?”
Pertanyaanmu tidak hanya membuatku bingung, tetapi juga kecewa. Terlebih saat kau berniat bunuh diri setelah melihat banyak berita di media sosial tentang korupsi dan sang pekau dihukum pada akhir hidupnya.