Pesan Kematian

“Maafkan aku juga.”

Kau bergeming, bahkan tidak menoleh. Aku melihat bulir-bulir di matamu bertahan. Tidak kauusap seperti pernah kupergoki. Kau juga tidak memedulikan ibumu yang duduk di depanmu.

Kau harus tahu, mati muda bukan pilihan. Bahkan aku tidak punya pilihan saat dua malaikat mengangkat jiwaku dan tidak memberikan kesempatan pamit kepadamu yang kini menangis. Kau menangis berhari-hari, tetapi bukan lagi karena kepergianku. Kau menangis karena masih dianggap tidak waras. Padahal, kau sudah menyadari: mati bukan pilihan.

***

“Bagaimana ceritanya hingga pacarmu meninggal?” kata seorang ibu dengan suara terbata-bata.

“Dia bunuh diri karena mengira aku meninggal,” kata anaknya. “Dia tidak tahu kabarku, sehingga panik. Apalagi pesannya tidak kubalas. Mungkin dia tidak tahu HP-ku dimatikan. Coba aktifkan HP-ku, pasti dia mengirim banyak pesan,” pinta sang anak.

Ibunya buru-buru mengaktifkan HPsang anak dan membaca semua pesan kekasih anaknya. Dari sekian pesan, ada satu pesan yang panjang dan bercerita tentang keinginan anaknya untuk mati muda.

“Apa pendapatmu jika aku ingin mati muda?” Ibunya membaca kalimat pada awal cerita ini yang diberi judul “Pesan Kamatian”. Di depan sang anak dengan tangan dan kaki terantai, bibir ibu itu gemetar. Namun dia terus membaca. Membaca debar-debar dadanya. (44)

 

Jejak Imaji 2018

Sule Subaweh bekerja di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarya, aktif di Komunitas Sastra Jejak Imaji. Kumpulan cerpennya Bedak dalam Pasir (2017).

Arsip Cerpen di Indonesia