“Dan mati tua adalah kematian yang melelahkan,” katamu.
“Chairil Anwar saja ingin hidup seribu tahun lagi.”
“Petikan puisi itu hanya berlaku pada karyanya,” sanggahmu dengan senyum menyepelekan.
Hari-hari selanjutnya, entah berapa kali aku dapati kau setiap pagi memandang nenek yang duduk di depan rumah dengan pandangan kosong. Sesekali aku lihat kau menelisik seluruh tubuhnya yang sudah keriput. Wajah, tangan, juga tak luput baju kebaya dengan sampir yang mengikat perut nenek itu jadi sorotanmu. Kaupandang dengan tatapan heran dan mengantongi pertanyaan.
“Apakah yang nenek itu pikirkan? Kenapa dia masih menggunakan kebaya?” tanyamu.
Aku hanya menatap heran pada nenek itu. Namun aku lebih heran atas pikiranmu.
“Atau memang tidak dipedulikan oleh anak-cucunya?” terkamu setelah beberapa kali kaulihat sang cucu berbicara dengan nada tinggi meminta uang seperti preman. Kaudapati pula ibu anak itu tidak peduli atas sikap sang anak.
Makin kuat saja kau dengan keinginan untuk tidak menjadi tua. Lalu kau membayangkan anak-cucumu kelak memperlakukanmu secara tidak sopan dan tak merawat. Terlebih saat kau mendapati berita di media sosial tentang anak membunuh orang tuanya, membuang, bahkan menyiksa orang tuanya. Karena itu pula kau makin sayang pada ibu dan bapakmu. Setiap hari kau selalu menyempatkan berkumpul dengan bapak-ibumu sambil berbincang hal-hal yang membuat mereka terhibur.