Mereka abai pada fakta bahwa sang penguasa tidak bertakhta di negara mereka. Kesultanan Banjar tak lagi memilih pemimpin di bilik-bilik suara. Sabda dan restu Tuhan menaungi orang-orang di Kesultanan. Hukum agama diberlakukan seluas-luasnya, yang menjadi luar biasa sakral karena bersisian dengan cap kesultanan.
Kebencian, ajaibnya, surut perlahan ketika foto Mister Kim yang sedang menjabat erat Paduka Yang Mulia Sultan Banjar I bertebaran di mana-mana.
***
Pekarangan rumah kami tetap segar. Kemarau tahun ini berjalan begitu panjang, namun Ibu berpantang menyerah dengan keadaan. Tiap dua hari sekali ia habiskan waktunya untuk mengurusi tanaman-tanaman itu. Terkhusus di hari Minggu ia akan menyisihkan lebih banyak waktu. Akan kusimak dirinya mengurusi mereka dengan riang, sembari bernyanyi dan bersenandika. Terkadang ia mengajakku bicara, walau tahu aku tak bisa membalas kata-katanya.
Setelah sekira tiga jam berada di sana, ia akan menjerang air. Deru kompor menjadi alarm bagi Ayah untuk menggantikan tugas Ibu. Tak lama setelah segelas kopi tersaji, Ibu akan masuk ke kamar mandi, bergantian dengan Ayah.
Tatkala telah tuntas memutar “Rebel Rebel” dari David Bowie, Ayah membawaku keluar rumah. Kami meninggalkan Ibu, membiarkannya beristirahat setidaknya sampai siang nanti. Ayah dan aku hendak melakukan ritual milik berdua: piknik toserba.
Demi puluhan tunggakan yang mencekik; demi ratusan persanggamaan hampa di sepertiga malam; demi anak-anak yang kian hari kian sulit dimengerti; demi para dewa (dewa di langit, dewa di bumi, dewa bermesin), kehidupan kami masih mendamba salah satu pelarian orang-orang zaman kalian: berpiknik, lari sejenak dari segala dan semua yang membebani diri.
***