Piknik Toserba

“Indung-indung kepala lindung. Ujan di udik di sini mendung. Anak siapa pakai kerudung. Mata melirik kaki kesandung…

“La haula wa la kuwwata. Mata melihat seperti buta. Tiada daya tiada upaya. Melainkan Tuhan yang Maha Esa.”

Ia mengelus-elus kepalaku dengan lembut. Napas yang keluar dari rongga hidungnya menderu. Lagu itu selalu ia senandungkan saat menyolokkan untaian kabel itu ke kepalaku. Ia bukan orang bertuhan, entah mengapa ada nama Tuhan di lagu tersebut.

“Ibu sedih sekali, Adya. Mengapa dunia jadi porak poranda begini. Ibu takut tidak bisa menyertai di masa-masa remajamu, di masa-masa ketika kamu kerap berada di persimpangan jalan…

“Kamu mesti tahu kondisi ayah-ibumu. Kami adalah satu. Benar-benar satu. Kulakukan metode ini agar kamu tidak pernah sekali pun merasa yang terbuang, agar kamu—setelah kami adopsi—haruslah menepuk dada bangga, kamulah sang terpilih dari sekian banyak anak terlantar di negeri ini.”

Ayah dan Ibu benar-benar satu. Ini bukan omong kosong. Mereka, dulu sekali, merasa mampu melampaui batas. Pernikahan dengan jiwa dan tubuh yang lain tidak dapat mereka bayangkan. Ayah dan Ibuku adalah satu: sebab itu mereka memilih nama Nanda. Mungkin mereka menamaiku Adya karena alasan yang sama. Mereka memerdekakanku dari penjara bernama gender, agar aku, sejak dini, berani memilih dan mempertanggungjawabkan pilihanku sendiri.

Jalan hidupku masih lama, tentu saja. Umurku baru enam bulan. Pikiranku bisa berkelana ke zaman kalian berkat ulah penulis miskin nan sok tahu yang menghabiskan malam demi malamnya yang sepi, yang terlampau khawatir dengan masa depan arsipelago.

Arsip Cerpen di Indonesia