“Heiii, ketemu lagi sama Dik Adya! Melaa.. sini, Nak. Hush, enggak boleh ngacak-ngacak barang dagangan. Nanti dimarahi sama petugas. Tuh, lihat, Dik Adya anteng yah. Kasih cium sayang untuk dia, Nak,” celoteh ibu muda itu dengan riang.
Ayahku tahu itu keriangan yang palsu, yang dipaksakan keluar sebagai tameng penutup lara. Usia pernikahan ibu ini paling lama berusia sepuluh tahun. Tetapi ada cekung muram di senyum itu; ada getir di balik suaranya yang renyah.
Ayah tersenyum lalu melambaikan tangan lalu mengedikkan bahu lalu kutahu ia merasa terganggu. Ayah sedang menyimak berita kerusuhan di layar hologram toserba ini. Ia lantas mengusapi kepala Mela, sampai akhirnya menyapa ibu gadis itu:
“Belum selesai belanjanya, Mbak?”
“Tahu sendirilah, Mas—emmm, Nanda kan?”
“Betul, nama saya Nanda.”
“Iya, Mas Nanda. Maklum ibu-ibu. Biar sudah bikin daftar belanjaan, ujung-ujungnya selalu saja ada barang lain yang kami pikir harus kami beli. Persediaan kotakdaya kami sepertinya menipis, saya lupa ngecek. Terus tangan saya dan Mela seperti enggak bisa berhenti memasukkan barang-barang lain ke dalam troli. Aduh, maaf, kok cerewet sekali saya hari ini.”
(Kawan-kawan, di masa kami, kotakdaya memiliki fungsi yang sungguh signifikan. Seorang penemu berhasil memadatkan listrik ribuan watt dalam kotak berukuran kecil—begitu kecil sehingga bisa kau masukkan ke saku—sehingga menggantikan peran sumber energi fosil.)
Ayah mendeham, makin merasa tak nyaman. Ibu muda di hadapannya terang-terangan sedang merayu (dua kancing blusnya ia copot). Maaf, Tante, Ayahku ini berbeda. Ah, aku terlampau sulit menjelaskannya. Yang jelas aku tahu: perempuan ini, meski telah beranak dan sedikit melebar badannya, masih sanggup memikat lelaki.