“Mas Nanda sendiri?” lanjutnya. Kali ini sembari mengarsir anak-anak rambut ke atas telinga. Cara klasik kaum wanita saat memikat lelaki.
“Aku tersita karena ini, lihat,” jawab Ayah seraya menengadah.
“Oh, kerusuhan di Kesultanan Banjar. Sedih, Mas, lihatnya. Sudah berbulan-bulan.”
“Iya. Betapa pun runyamnya kehidupan di arsipelago dulu, negara itu benar-benar saya rindukan. Ingin sekali saya berteriak, IN-DO—“
“Mas Nanda jangan iseng, ih!” teriak sang Ibu muda seraya mencengkeram lengan kiri Ayah. Perempuan ini benar-benar kesengsem rupanya.
(Maaf bila kusela lagi. Menyebut kata Indonesia adalah tindakan kriminal di negara kami. Kata itu telah berganti menjadi arsipelago.)
“Kita mesti bersyukur, Mas. Republik Pajajaran negara yang demokratis.”
“Iya. Saya setuju banget. Saya cuma sedih. Dulu pernah menghabiskan masa kecil di Banjar. Duh, maaf. Sepertinya saya harus duluan.”
Ayah memapahku ke dalam dekapannya. Troli ia tarik, sehingga punya alasan untuk tak menjabat perempuan itu.
“Mas Nanda!”
“Ya?”
“Anak Mas, Dik Adya, perempuan atau laki-laki?”
Ayah terkekeh, mulutnya terkunci, meninggalkan sang Ibu muda yang serta-merta melongo.
***
Tubuh Ibu begitu wangi. Konon jenis parfum yang ia pakai beraroma melati. Aku ingin berada di pelukannya sepanjang hari.
Ia memasukkan kotakdaya dengan saksama ke dalam mesin biru. Tatkala mesin itu mulai berdengung, ia melemaskan tubuh, merenggangkan sendi-sendinya, lantas menghela napas keras-keras.