SANTA ZOMBIE (Atau: Perasaan dari yang Mati Disiksa)

Kalau memang disengaja untuk membiarkannya berlama-lama di dalam kondisi seperti itu: hal apa yang diminta dari Marciena Vilanxa hingga tindakan pertolongan pertama diabaikan? Kami tak tahu-tak ingin tahu. Meski, bila berani, kami bisa lebih tahu tentang peristiwa itu, dengan ritual voodoo: memanggil roh untuk masuk di dalam tubuh siapa pun dari orang sekampung. Tapi apa gunanya lebih tahu? Apakah itu tidak jadi sebab hingga salah satu dari kami akan diperlakukan kejam, seperti siksaan pada Marciena Vilanxa? Dijadikan si bukti penggertak, suatu peringatan dari orang asing-yang kini ada di kampung dan memata-matai kami? Apa ada orang yang ingin agar kami melupakan Marciena Vilanxa, tapi ia tidak pernah berterus terang menjelaskan kenapa kami harus melupakan teman sekampung yang sekarat perlahan-lahan itu.

Marciena Vilanxa memang mengalami sekarat panjang-kondisi yang menyebabkan roh ada di luar tubuh meski ia terus menginginkannya abadi dalam tubuh, terjangkar meski tubuh telah dikuburkan, roh tertahan dalam kondisi munting, tidak beranjak bagai layang-layang tidak imbang diserut angin. Ingin bebas dari jangkar tubuh dalam fakta hidup di dunia, tapi tubuh dan ambisi untuk bertahan tetap hidup tak memperkenankannya terbang ke keluasan langit mati. Fakta sakit yang sudah tak tertahankan, hingga meski dipertahankan dengan ambisi terus bertahan hidup, yang membuat pertolongan pembebasan roh ke dalam mati dan lepas dari tubuh jadi mustahil.

Ngerinya, kematian yang nyaris lengkap itu sengaja mereka labi dengan penyiksaan perkosaan: sebilah sangkur dimasukkan vagina, lantas kasar digerakkan merobek ke tiga sisi. Lukanya amat parah, melebihi luka koyak karena melahirkan (alami) bayi tujuh puluh lima sentimeter dengan berat dua puluh lima kilogram. Dan ihwal pelabi itu, siksaan itu sengaja dilakukan ketika Marciena Vilanxa masih hidup dalam hanya setengah mati, dan laku pelabi siksa yang sengaja itu diharapkan akan memicu pendarahan hebat yang tidak berhenti—bahkan ketika dipindahkan ke tempat itu. Darah segar, yang selalu hadir lagi serta terus hadir di tempat mayat Marciena Vilanxa ditemukan-meski mayatnya telah lama dikuburkan.

Dan sesekali, mungkin, muncul di kendaraan pembawa tubuh (sekarat) Marciena Vilanxa itu ke sana, di tangan para penyiksa, serta di tempat di mana laku penyiksaan sistematik itu berlangsung intensif–dengan memperhitungkan batas daya tahan tubuhnya ketika berlama-lama dan berlambat-lambat menyiksa, serta itu, tanpa sadar, telah menjerembabkannya jadi roh yang tidak mau membubung dan meski tubuh telah ditinggalkannya. Tapi disiksa di mana? Tapi bagaimana penyiksaan sadis itu berlangsung? Ada berapa orang penyiksa? Apa dengan itu pelaku merasa terhibur?

Arsip Cerpen di Indonesia