SANTA ZOMBIE (Atau: Perasaan dari yang Mati Disiksa)

SAYA tidak tahu-tepatnya: tidak ingin tahu-bahkan percaya kalau pertanyaan tentang itu akan membuat saya tak selamat. Selain para pelaku, penyuruh, serta si aktor intelektual sistem penyiksaan yang efektif, mungkin hanya rohnya yang tahu-meski kini akan selalu kebingungan mencari tubuh yang telah dikuburkan, karena itu roh terus mencari ke mana-mana: ke tempat dibunuh, ke mobil yang membawanya ke sana, dan ke seputaran orang-orang yang menyiksanya. Dan (terutama) ke tempat penyiksaan itu. Dulu-beberapa orang segera tahu dan berpura-pura baru tahu saat mayat Marciena Vilanxa ditemukan-sebenarnya beberapa orang kampung yang tahu kapan dan oleh siapa meski hanya sosok-mayat sekarat itu diletakkan di pinggir jalur utama angkutan ke Los Bravos, dan memilih bungkam-: hingga rohnya gentayangan.

Di malam hari, katanya, roh itu senang mencegat bus, buat sesaat ikut barat atau timur, serta menghilang kalau ditagih karcis. Sehingga, di malam hari, semua bus dari Mediolexa atau yang langsung dari Los Sraguena, atau sebaliknya, tidak mau berhenti bila distop siapa pun di sana. Bus-bus itu memilih melaju kencang, dengan lampu kabin dan di luar dimatikan-melaju dengan hanya memakai lampu pendek. Semua bisu. Sopir, kernet, kondektur, serta penumpang membisu dan intensif dalam Doa Pemberkatan bagi si mati. Bahkan, sekitar 3-4 bulan, orang-orang kampung tidak berani ada di luar rumah di malam hari, terlebih nekat berjalan kaki melewati tempat itu–meski petang baru mulai, dan remang sangat lama akan kelam.

Meski tidak mengganggu, kehadiran sosok termangu dari Marciena Vilanxa, yang selalu terdengar terisak itu mengiris perasaan-melukai rasa keadilan lebih tepatnya. Bahkan fenomena penampakan yang terdiam kebingungan itu, yang merupakan pertanda ada tuntutan keadilan atau sekedar kejelasan sebab kematian itu, tapi tak terlampiaskan dan tak pernah demonstratif dilampiaskan karena kami takut, dan bahkan memikirkan ide itu malah membuat kami makin ketakutan. Takut bablas nila memaksa buat menyelidik alasan, kapan dan di mana dibunuh. Sesuatu yang membuat kami itu sampai di titik mulai mengerti siapa yang membunuhnya. Pendek kata, kami takut pada siapa yang bersekongkol di balik penyiksaan itu-dan siapa dan apa sistem yang berperan menyiksanya. Dan bukan takut oleh kehadiran si roh yang gelisah mencari tubuh itu.

Bukan takut kepada kepenasaranan roh itu, yang berubah jadi kemarahan yang dilampiaskan pada kami, karenanya Doa Pemberkatan selalu diucapkan, tapi oleh kekuatan rahasia yang telah sistematik membunuhnya-si komplotan yang kini secara amat mencolok hadir sebagai si orang asing yang diam-diam mengawasi serta memata-matai kami, dengan sengaja bermukim di kampung. Emang! Setidaknya, roh itu cuma jadi yang termangu dan kebingungan, hingga kehadirannya itu tidak pernah menimbulkan celaka, atau insiden jalanan yang membuat penumpang bus atau si pengendara sepeda motor panik dan tergesa ngebut.

Arsip Cerpen di Indonesia