SANTA ZOMBIE (Atau: Perasaan dari yang Mati Disiksa)

“Ia anak baik,” kata si seseorang asing itu, “sementara temannya berdemo tidak keruan, karena terprovokasi: ia memilih pulang ke kampung. Di tengah perjalanan itu, mungkin, keluguan membuatnya ramah berkenalan dengan sembarangan lelaki, yang kemudian membius-serta memperkosanya dengan sadis.” Kami terdiam. Saya seperti bersua dengan Marquis de Sade-kami membaca ceritanya, dari buku di perpustakaan lycee, di kampung gersang di bukit-bukit gundul di pedalaman Guyana Prancis bagian barat. Saya tahu persis: pemerkosaan tidak mungkin meninggalkan bekas luka robek-koyakan seperti hasil pembajakan liar dengan singkal bajak Caterpillar, seperti luka melahirkan bayi sepanjang tujuh puluh lima sentimeter dengan berat dua puluh lima kilogram.

Ketika membayangkan rudapaksa itu, saya jadi mual. Ada nyeri yang rasanya hanya tuntas bila semua itu diteriakkan ke tengah dunia-karena tidak berani meneriakkannya, maka seluruh siang dan malam kami jadi menyakitkan. Sekaligus sangat menakutkan karena di kampung makin sering terlihat orang asing berkeliaran, menyelonong ikut mengobrol, atau diam-diam menguping-hingga kami tidak bebas berbicara. Kami dimata-matai, untuk sesuatu yang dilakukan mereka; kami diawasi untuk satu cerita yang sebenarnya tak diketahui apa dan bagaimana persisnya. Dikontrol dan diblokir sebab kami tahu persis siapa Marciena Vilanxa, karena yakin tidak mungkin Marciena tidak ikut berdemo, sekaligus tidak mungkin Marciena pulang kampung, dan diperkosa-Marciena Vilanxa atlet capoeira.

Sesuatu yang membuat saya yakin, sekaligus semua orang kampung amat tahu: Marciena Vilanxa itu tak mati diperkosa. Itu kalimat sangat absurd, amat fiksi surrealistik sekali saat dikatakan mereka, bahwa (kini) si pemerkosa itu sedang diburu polisi. Marciena Vilanxa telah diambil di tengah arena demo-seperti sudah dikatakan: ada orang yang berani bersaksi, meski kesaksian itu ini cuma dibisikkan di antara kami, sebab orang asing itu tidak mau ada yang tahu dan berani bersaksi. Terbukti, selalu ada orang yang tidak tahu malu mengawasi kami, bahkan yang pindah menetap sebagai si warga-bagai baji yang dipakukan ke tenggorokan, agar kami ini hanya menceritakan Marciena Vilanxa diperkosa, bukan dibunuh dengan amat bersungguh-sungguh.

Kenapa ia dianggap berbahaya?

Arsip Cerpen di Indonesia