TAPI kodrat kebenaran sejati itu tak pernah mau dan bisa dimanipulasi, mustahil dapat rapat disembunyikan. Meski tanpa ritual voodoo, terkadang saya berjumpa roh Marciena Vilanxa, yang datang separuh mencari tubuh di tempat di mana dulu sering mampir: lantas dalam bisu, tak saling berbicara, kami berpandangan. Terkadang saya sengaja membaca ulang buku kliping tempelan berita-berita koran, artikel-artikel analisis jurnalistik, esai atau opini tentang sebab kematiannya dalam konteks jejaring gerakan perburuhan, di negara yang butuh buruh kecil berupah murah agar laju investasi PMA terus meningkat, dan suap yang mengkonkretkan itu dalam kolaborasi yang bikin buruh teralienasi. Sebuah kolaborasi kapitalisme internasional.
Marciena Vilanxa tercenung menatap aku membaca. Matanya berkaca-kaca, dan saya pun teringat pembicaraan tentang rintisan kecil untuk memulai agar di satu hari para buruh bisa sejahtera, kemudian melengos sambil beranjak pergi. Mungkin pergi ke pabrik tempatnya bekerja, dulu. Mungkin pergi ke pos gelap Serikat Buruh, yang jadi tempat berdiskusi untuk memahami pengkondisian sosial-politik, yang merugikan ketahanan ekonomi buruh. Mungkin pergi ke tempat (dulu) berdemo dan kemudian diciduk. Dan mungkin mencari tempat ia dipaksa mengakui apa-apa yang sebenarnya tak diketahui. Dan mungkin mencari orang yang menyiksanya dan sekaligus mencari alat penyiksanya-sesuatu yang tidak diketahui dan mustahil ditelusuri.
ROH Marciena Vilanxa memang tidak pernah mengatakan apa-apa, bahkan sekedar dengan bisu isyarat tangan atau gestur mimik. Ia cuma kebingungan, dan senantiasa ada dalam kebingungan yang memekat itu. Senantiasa terpukau oleh fakta: kok aku berada di luar tubuh, dan ada di manakah kini tubuh itu. Tapi bila tubuh itu ditemukan-yang pasti telah hancur-apa ia berani untuk bisa hidup lagi dengan kondisi tubuh sangat mengenaskan seperti itu? Kondisi yang sebaiknya harus berakhir di termin mati ketimbang hidup koma saat roh terus ngotot bertahan dalam tubuh tapi tidak bisa digerakkan sebagai bagan otonom hidup-selain sakit yang terus menyiksa?
Dengan kata lain-terima kasih pada Kasih Allah pada manusia yang teraniaya sehingga tubuhnya rusak-bila tubuh itu ditemukan serta dirasuki roh lagi, apa itu bukan suatu fenomena kehadiran yang menyiksa yang akan membuat selamanya akan menderita sakit, hingga itu terlihat lebih tragis lagi? Bahkan-bila itu mungkin-di saat sebelum benar-benar terjaga sebagai zombie yang dihidupkan lagi, ia akan segera didatangi orang asing itu, dan ditembak di kuduk dari belakang-tersandar di pembaringan dan ditembak dalam jarak pendek di ruang UGD Rumah Sakit Los Bravos-tanpa matanya yang ditutup? Bahkan, mungkin, dibawa ke pegunungan, ke pojokan hutan liar di perbatasan barat, digorok, dan mayatnya dilemparkan ke jurang-atau dibuang ke laut Tanjung Jeruk, agar dimangsa ikan hiu.