IA hantu baik-identik dengan Casper. Saya yakin, ia memang hantu baik, karena berasal dari manusia baik. Memang Marciena Vilanxa itu cuma lulusan lycee desa, yang terpaksa pergi ke Los Bravos untuk bekerja di pabrik. Supaya bisa punya penghasilan, bisa menabung sen demi sen agar suatu ketika mampu kuliah. Setidaknya bila ada dana sisa selalu dipakai Marciena Vilanxa buat sekedar membeli buku apa saja di loak, dan gairah terus membacanya terus berkembang dan bercabang-cabang ke aneka bidang. Tapi, nyatanya, Marciena Vilanxa itu lebih banyak mengumpulkan koran bekas, yang dibeli kiloan, mengumpulkan guntingan (kliping) artikel-artikel pengetahuan yang kemudian ditempelkannya pada buku tulis bekas.
Tahun demi tahun mempelajari semua itu. Dengan ikut menambah pengetahuan dengan ikut pendidikan di Persatuan Buruh. Mendengarkan siapa pun berbicara. Ikut berdiskusi, dengan berpendapat dan menanyakan banyak hal tentang pendapat orang lain. Aktif mendapat beberapa pelatihan. Ikut penyadaran. Mendapatkan keberanian berpendapat karena adanya dari back up advokasi. Karenanya semakin nyaring berbicara tentang hak-hak kaum buruh yang dirampas oleh jam kerja yang panjang, upah yang minim yang bahkan sukar memenuhi kebutuhan hidup minimal di kota, dan depolitisasi sengaja yang membuat buruh tak bebas buat berserikat menuntut hak atas keuntungan perusahaan yang melimpah tapi dikutip oleh aparat Negara yang koruptif dan tak bertanggung jawab, dan seterusnya. “Tapi apa itu tidak berbahaya?” tanyaku.
Marciena Vilanxa tersenyum. Katanya, “Memang itu berbahaya, tapi harus ada yang mau merintis-supaya di satu hari, nanti, perubahan terjadi. Buruh sejahtera….” Saya tersenyum-bangga. Marciena Vilanxa itu salah satu lulusan lycee desa kami, anak didik kami yang terbaik, muridku, karena kini pengetahuannya telah melampauiku, meski kemiskinan telah membuatnya tidak bisa total mengeksploitasi potensi ingin tahu dan berpengetahuan, hingga ke tingkatan sarjana, bahkan S-2 atau doktoral. Tapi kehausan akan pengetahuan itu amat tinggi, dan itu sudah terdeteksi sejak ia jadi salah satu murid dalam perwalianku, ketika ia sering bertandang ke rumah buat membaca koleksiku setelah buku-buku di perpustakaan lycee habis dibacanya.