SETELAH kerja, ketika liburan, ia sering sengaja mampir-seakan-akan rumah dan orang tuanya itu ada dua. Aku ingat, Marciena Vilanxa selalu memakai uniform tak resmi, karena tak ada duit lebih untuk membeli pakaian baru. Uang sisa dicadangkan untuk membeli bacaan di loak, serta sisa dari sisa itu yang dipakainya untuk ongkos pulang kampung dan ketika berangkat lagi. Memburu kerja shift malam, dengan berangkat siang, agar bisa mampir dulu ke tempat kos untuk memakai baju kerja. Bukan: celana jins, kaus murahan atau kaus promosi dagang, dan jaket lusuh.
Dan dengan uniform seperti itu, tubuh penuh darah Marciena Vilanxa itu digeletakkan dan kemudian berpura-pura ditemukan-berbareng rohnya kelayapan seperti layang-layang yang putus benang, men-jaul ingin ke awan tapi dipaksa benang ingin terus hidup untuk kembali ke bumi. Meski terlihat bila jaket itu dipaksakan buat terpakai, sebab mungkin ia disiksa dalam keadaan bertelanjang, seperti fakta kaus promosi bumbu masak yang tak terlalu berlumuran darah. Kaos dan jaket yang diabaikan, sengaja jadi bukti yang disisihkan saat dikesankan menyertai prosesi panjang dari berlebihan pada celana jins melorot, dan celana dalamnya yang dibuka paksa dan diturunkan ke paha, sebelum selangkangan dan vaginanya robek dirudapaksa, lalu dipakaikan lagi hingga darah rembes di pinggang, pantat, dan paha belakang-mulut disumbat bra.
SAYA tak tahu kapan mayat itu dibuang ke sana, tapi roh Marciena Vilanxa terus kelayapan ke mana-mana, mencari tubuhnya. Sesaat saya hendak bilang-dengan ritus voodoo-bahwa itu pendekatan yang salah, karena seharusnya: mencari tahu kapan ia mati, hingga di saat itu juga akan ditemukan tempat ia dibunuh dengan petunjuk saat tubuh bertransformasi jadi mayat. Dan dengan tidak perlu bertemu tubuh lagi Marciena Vilanxa akan tahu, lalu ikhlas melayang sebagai uap air diserap awan keabadian, mengembun di surga dan tidak menitik menjadi gerimis berpelangi di bumi ini. Setidaknya sejak ia ditemukan, dan kami segera tahu bahwa itu mayatnya Marciena Vilanxa, salah seorang warga kampung kami.
Tapi siapa yang telah membunuh? Kami mengendusnya, tapi kami tidak berani mengatakannya bahwa awal dari semua itu demo buruh meminta peningkatan kesejahteraan, meminta peningkatan upah lembur, serta adanya cuti haid tanpa potongan upah bagi para pekerja wanita. Kata si beberapa teman sekerja, kepada Serikat Buruh, Marciena Vilanxa diambil dari tengah-tengah keriuhan demo. Tapi mereka terus memaksa kami agar percaya penuh pada cerita versi mereka: Marciena Vilanxa mati diperkosa, karena ia sembarangan berbicara dan berkenalan dengan sembarang lelaki dalam bus ketika pulang di hari teman-teman buruhnya berdemo.