Rahasia dari Perut Dapur; Juru Masak Orang Melayu; Batu Giling Sungai Binjai; Rumpun Padi dan Daun Mangkuk Basah; Sambal Caluk; Belut Hijau dari Perut Rawa; Kesaksian Caluk Kangkung; Orang Dusun di Tanah Pilih

Batu Giling Sungai Binjai

 

Caluk ini sudah hambar, manisku. Tidak terasa lagi udang.

Telah tergerus ia bersama angin dingin yang bersilat di hidungmu.

Napasmu telah sebeku semen, terlindung oleh lumut-lumut hijau

Yang tumbuh dan mengakar pada pintu lemari es batas waktu

 

Dan tak akan ada lagi pagi

Bersama goreng ikan asin, kerupuk kemplang,

Tahu mentah, tempe kecap, terung bakar,

Serta sayur pucuk ubi yang direbus setengah layu.

 

Kenapa kau lebih dulu pergi bersama sejuta kembang,

Bercerek-cerek air hujan, dan aroma minyak wangi

Milik orang sembahyang di masjid? Tidakkah kau mengerti

Betapa kita masih memiliki janji mendaki

 

Gunungan cabai hijau dengan berbungkah tomat muda bersama?

Kini aku sendiri, di sudut malam minggu, menunggu blender

Tunai menggiling bawang merah, bawang putih dan cabai.

Caluk ini akan kugerus dengan garpu.

 

Semoga kenangan pada gemulai tubuhmu yang lincah

Bersilat di badan batu itu membangkitkan seleraku.

 

Arsip Cerpen di Indonesia