Batu Giling Sungai Binjai
Caluk ini sudah hambar, manisku. Tidak terasa lagi udang.
Telah tergerus ia bersama angin dingin yang bersilat di hidungmu.
Napasmu telah sebeku semen, terlindung oleh lumut-lumut hijau
Yang tumbuh dan mengakar pada pintu lemari es batas waktu
Dan tak akan ada lagi pagi
Bersama goreng ikan asin, kerupuk kemplang,
Tahu mentah, tempe kecap, terung bakar,
Serta sayur pucuk ubi yang direbus setengah layu.
Kenapa kau lebih dulu pergi bersama sejuta kembang,
Bercerek-cerek air hujan, dan aroma minyak wangi
Milik orang sembahyang di masjid? Tidakkah kau mengerti
Betapa kita masih memiliki janji mendaki
Gunungan cabai hijau dengan berbungkah tomat muda bersama?
Kini aku sendiri, di sudut malam minggu, menunggu blender
Tunai menggiling bawang merah, bawang putih dan cabai.
Caluk ini akan kugerus dengan garpu.
Semoga kenangan pada gemulai tubuhmu yang lincah
Bersilat di badan batu itu membangkitkan seleraku.