Rahasia dari Perut Dapur; Juru Masak Orang Melayu; Batu Giling Sungai Binjai; Rumpun Padi dan Daun Mangkuk Basah; Sambal Caluk; Belut Hijau dari Perut Rawa; Kesaksian Caluk Kangkung; Orang Dusun di Tanah Pilih

Kesaksian Caluk Kangkung

 

Di langit fana, rasi bintang

Membungkuk udang.

Bulan daun kangkung

Melambai di tengahnya.

 

Di meja malam, roti tinggal suara balam.

Angin gunung yang turun

Menguarkan aroma perkawinan

Antara selai srikaya dan jeruk yang masam.

 

Di lambung waktu

Amerika dan China berperang

Mengeluarkan kebijakan kenaikan pajak

Bagi daging babi yang masuk ke dalam

Perut negara.

 

Aku berada di perut kota.

Di bibir jalan aku berdiri

Mataku melihat mati

Ke arah langit tertinggi.

 

Aku melihat anak-anak dengan tulang dengkul menyembul

Duduk diam di atas sisa pembongkaran rumah tua.

Mata mereka bagai redup lampu

Memandang ke arah restoran mahal.

 

Suara mereka sedalam ombak yang membentur karang.

Keluh kesah mereka bagai menggugah rasa lapar

Burung-burung bangkai yang bercinta

Di balik rimbun alang-alang.

 

Sekelompok pria paruh baya datang

Berteriak-teriak sembari memukul-mukul panci.

Kuterka, barangkali mereka hendak menyampaikan

Bahasa bimbang dalam perutnya.

 

Ketika seorang koki tiba-tiba ikut menyumbang suara.

Aku bertanya, “Kenapa kau terlihat begitu bergairah?”

 

Dan ia menjawab,

“Restoran itu telah mendatangkan orang asing

Sebagai juru masaknya!”

 

Arsip Cerpen di Indonesia