Kesaksian Caluk Kangkung
Di langit fana, rasi bintang
Membungkuk udang.
Bulan daun kangkung
Melambai di tengahnya.
Di meja malam, roti tinggal suara balam.
Angin gunung yang turun
Menguarkan aroma perkawinan
Antara selai srikaya dan jeruk yang masam.
Di lambung waktu
Amerika dan China berperang
Mengeluarkan kebijakan kenaikan pajak
Bagi daging babi yang masuk ke dalam
Perut negara.
Aku berada di perut kota.
Di bibir jalan aku berdiri
Mataku melihat mati
Ke arah langit tertinggi.
Aku melihat anak-anak dengan tulang dengkul menyembul
Duduk diam di atas sisa pembongkaran rumah tua.
Mata mereka bagai redup lampu
Memandang ke arah restoran mahal.
Suara mereka sedalam ombak yang membentur karang.
Keluh kesah mereka bagai menggugah rasa lapar
Burung-burung bangkai yang bercinta
Di balik rimbun alang-alang.
Sekelompok pria paruh baya datang
Berteriak-teriak sembari memukul-mukul panci.
Kuterka, barangkali mereka hendak menyampaikan
Bahasa bimbang dalam perutnya.
Ketika seorang koki tiba-tiba ikut menyumbang suara.
Aku bertanya, “Kenapa kau terlihat begitu bergairah?”
Dan ia menjawab,
“Restoran itu telah mendatangkan orang asing
Sebagai juru masaknya!”