Misteri Seorang Tukang Cukur

“Jawabannya kok muter-muter gitu.”

“Kalau Mas mau cukur, ya mari saya cukur.”

“Masak nyukur nggak ada alat cukur? Nggak bawa gunting?!”

“Lho motong rambut kan ndak mesti pakai gunting.”

“Lah Sampean mau motong rambut pakai apa? Pakai cangkul?”

Orang-orang yang mendengar percakapan itu tertawa.

Baca juga: Penjaga Kamar Mayat dan Sejumlah Fiksi Mini Lainnya – Sekumpulan Fiksi Mini Agus Noor (Koran Tempo, 04 April 2010)

Mungkin karena penasaran atau mungkin juga karena kasihan melihatnya berhari-hari hanya bengong, akhirnya ada yang minta dicukur. Bahkan sebelum dicukur, orang itu sudah memberinya uang. Barangkali niatnya hanya ngasih rezeki. Tukang cukur itu mengucapkan terima kasih berkali-kali, kemudian mempersilakan duduk di kursi lipat.

Pada saat itulah orang-orang tercengang melihat Tukang Cukur itu. Dan cerita tentangnya dengan cepat menyebar ke seantero kota.

***

KAU bisa mendengar suara rambut tergunting jari-jari itu. Ketika helai demi helai rambut tercukur, rasanya seperti ada yang perlahan dibebaskan dari pikiran. Terasa ada semilir lembut yang merayap hangat di kulit kepalamu ketika jari-jari itu menggunting rambutmu. Kepalamu jadi segar, perasaanmu jadi ringan dan tenang. Terlebih ketika ia mulai memijiti kepalamu pelan-pelan.

Baca juga: Anjing Berjubah Merah – Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 24 September 2017)

Ia tak pernah mau menjelaskan, kenapa bisa memotong rambut dengan jarinya. Orang-orang hanya menduga, mungkin ia pernah tirakat atau sejenisnya, hingga diberi kelebihan seperti itu. Tukang Cukur itu hanya tersenyum bila ada yang menganggapnya punya kesaktian. Saya selalu menganggap rambut itu seperti kebaikan, katanya. Bukankah kita tak perlu bertanya dari mana kebaikan datang? Dari mana pun kebaikan datang, ya mesti kita terima dengan syukur. Begitu saja. Dan seperti rambut ini, kebaikan akan selalu tumbuh kembali meskipun dihabisi berkali-kali.

Sebenarnya ia tak banyak bicara saat mencukur. Bila ditanya, ia lebih sering menjawab dengan gumam atau anggukan. Dan ia akan terus diam bila ada yang ingin tahu nama dan riwayatnya. Karena tak pernah mau menyebutkan namanya, orang-orang kemudian memanggilnya “Pak Kur” , dari cukur, Tukang Cukur.

Baca juga: Kopi dan Cinta yang Tak Pernah Mati -Cerpen Agus Noor (Kompas, 11 Januari 2015)

Cerita ajaib makin banyak disampaikan mereka yang telah bercukur. Kang Wahyudi, misalnya. Orang sering heran dengan Kang Wahyudi. Kepalanya gundul plontos, tapi selalu rajin bercukur. Ia selalu bilang bahwa ia sesungguhnya tak hanya bercukur, tapi ingin membersihkan rambut. Bila kepala kita bersih, begitu juga pikiran kita. Pikiran orang gundul lebih terbuka, begitu kelakarnya. Begitu tumbuh rambut sedikit saja, ia pasti langsung bercukur membersihkannya. Hampir semua barbershop dan salon cukur di kota ini sudah pernah ia datangi. Baru kali ini saya merasa begitu nyaman menggunduli rambut, katanya, ya dengan Tukang Cukur itu. Dan ia tak mau pindah-pindah tukang cukur lagi.

Arsip Cerpen di Indonesia