Misteri Seorang Tukang Cukur

Saat lelaki itu terus-menerus disiksa dalam tahanan, ia seperti menyaksikan lagi keteguhan Mangir. Bahkan ketika istrinya diseret dan ditodong pistol di hadapannya, sorot mata lelaki itu tak juga goyah. Kematian tak akan pernah mengubah kebenaran, katanya. Ia begitu jengkel pada keteguhan lelaki itu.

Baca juga: Sindikat Pemalsu Kenangan – Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 02 Juli 2017)

Sampai kemudian, lelaki itu dipindah ke tahanan pusat. Setelah itu, ia mendengar lelaki tersebut ada di antara ratusan tahanan yang dibuang ke Pulau Buru…

***

MESKI Tukang Cukur itu tak pernah menceritakan nama dan riwayat hidupnya, ia yakin Tukang Cukur tersebut pastilah lelaki Mangir itu. Wajah itu tak pernah bisa ia lupakan. Terutama jari-jarinya. Ia memutuskan pindah ke kota ini karena ingin melupakan lelaki itu. Bila ia tetap tinggal di kota kelahirannya, ia cemas suatu kali akan bertemu dengan lelaki itu. Tetapi, masa lalu seperti punya cara sendiri untuk muncul kembali. Adakah Tukang Cukur itu muncul ke kota ini karena tahu ia tinggal di sini?

Jari-jari Tukang Cukur itu, ah, jari-jari Tukang Cukur itu. Tak pernah bisa ia lupakan, saat ia begitu jengkel pada tahanan yang terus tak mau mengakui semua tuduhan itu. Ia memaksa lelaki itu meletakkan telapak tangan dan membuka jari-jarinya di atas meja. Ketenangannya membuat ia mendengus jengkel. Di atas meja, jari-jari tangan yang hitam kusam itu terlihat seperti lembaran daun kering.

Baca juga: Anjing Bahagia yang Mati Bunuh Diri – Cerpen Agus Noor (Kompas, 07 Agustus 2016)

Ia selalu teringat bagaimana lelaki itu menggambarkan adegan kematian Mangir dalam lakon ketoprak: saat Mangir sujud menyembah Panembahan Senopati. Kepala Mangir bukan dihantamkan ke batu penopang singgasana, tapi dikepruk dengan batu itu. Lebih memperlihatkan kekejaman. Kekuasaan selalu membutuhkan darah untuk menegakkannya. Sambil membayangkan kepala Mangir dihantam dengan batu Sela Gilang hingga pecah bersimbah darah, ia mengambil palu besi, dan berkali-kali menghantam jari-jari itu. Lelaki itu menjerit dan pingsan. Tulang jari-jari itu remuk. Terutama jari tengah dan telunjuknya. Menjadi gepeng.

Seperti pisau. Seperti sepasang bilah gunting.

 

Jakarta, 2018

Agus Noor. Sastrawan kelahiran Tegal yang salah satu karyanya, “Cerita buat Para Kekasih”, populer pada 2014

Arsip Cerpen di Indonesia