Misteri Seorang Tukang Cukur

IA menganggap semua cerita itu hanyalah bualan yang dilebihlebihkan, tetapi juga membuatnya penasaran. Seorang kenalan yang bertahun-tahun selalu mengeluh kepalanya gampang pusing berkata kepadanya, “Entah kenapa, setelah saya cukur sama Pak Kur, kepala saya tak lagi pening. Kini terasa enteng.” Ia punya keluhan serupa, merasa ada yang tak beres di kepalanya. Sudah mencoba berobat ke banyak tempat. Tapi tak kunjung membaik. Itu membuatnya makin tergoda untuk mendatangi Tukang Cukur itu.

Sore yang cerah dan ia merasa itu saat yang baik untuk bercukur. Ia mengendarai mobil menuju alun-alun. Mobil ia parkir tak jauh dari tempat mangkal Tukang Cukur itu. Baru saja hendak membuka pintu, ia langsung terkesiap. Tangannya gemetar. Wajah Tukang Cukur itu! Dan ia melihat juga jari-jari itu. Di dunia ini ada ha-hal buruk yang tak akan pernah bisa kau lupakan. Pelan ia bersandar dan memejam. Bahkan, bila wajah itu tersembunyi dalam kegelapan pun, ia pasti akan mengenalinya.

Baca juga: Perihal Orang Miskin yang Bahagia – Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 31 Januari 2010)

Kini ia tahu kenapa orang-orang bercerita bahwa Tukang Cukur itu tak pernah mau mengungkap nama dan masa lalunya. Siapa pun tak ingin mengingat masa lalu yang buruk. Sepanjang malam ia terus-menerus disergap kegelisahan. Bayangan Tukang Cukur itu hilir mudik dalam ingatannya. Perawakan Tukang Cukur itu memang tak seperti 20 tahun lalu, tapi ia tetap mengenalinya. Tubuhnya lebih ringkih dan wajahnya tak setegar ketika ia melihatnya dalam tahanan.

Saat itu, sebagai tentara muda, ia bertugas sebagai interogator. Di antara para tahanan yang terlihat bingung dan pasrah pada nasibnya, lelaki itu satu-satunya yang tetap bersikeras bahwa ia tak tahu-menahu soal semua gegeran yang terjadi di Jakarta. Berkali-kali diinterograsi, lelaki itu tetap bersikukuh bahwa ia tak terlibat dengan semua kekacauan yang terjadi. Lelaki itu terus menjelaskan: saya memang sering main ketoprak di acara-acara yang diselenggarakan partai itu, tapi saya bukan orang kiri! Sikap keras itulah yang membuatnya jengkel sebagai interogator. Ia ingat perintah komandannya: tugasmu adalah membuat mereka semua mengaku!

Baca juga: Saksi Mata – Cerpen Agus Noor (Koran Tempo, 05-06 Agustus 2017) 

Bermacam siksaan tak membuat lelaki yang ia kenal sebagai pimpinan Kelompok Ketoprak Mardi Budaya itu goyah. Sebagai anak muda, ia suka menonton pentas-pentas ketoprak. Termasuk saat Mardi Budaya manggung di kampungnya. Yang paling diingatnya ialah ketika ia terpesona oleh lelaki itu, yang memainkan Mangir dalam lakon Mangir dan Pembayun. Seakan ia menyaksikan Mangir yang sesungguhnya di atas panggung. Ia merasakan suasana gaib yang membuatnya merinding. Kisah cinta di tengah intrik kekuasaan Mataram itu sungguh-sungguh menancap dalam ingatannya. Cinta yang kuat tak akan gentar menghadapi takdir paling buruk sekalipun. Lelaki itu mampu menghadirkan tokoh Mangir yang tegar, bahkan saat mengetahui kematiannya akan tiba.

Arsip Cerpen di Indonesia