Misteri Seorang Tukang Cukur

Biasanya, sebelum rambut dikerik, kepala dibasahi lebih dulu dengan busa sabun atau pelicin agar tak timbul perih atau tergores luka. Makanya saya merasa aneh, ketika Pak Kur tak membasahi kepala saya dengan apa pun, kata Kang Wahyudi sambil mengelus-elus kepalanya yang kinclong. Tetapi, kepala saya begitu adem ketika jari Tukang Cukur itu mengerik rambut saya dengan jarinya. Seperti ada embun membasahi kulit kepala saya. Benar seperti kata Tukang Cukur itu, kata Kang Wahyudi, bercukur itu sebenarnya membersihkan diri. Karena itulah, orang yang ibadah haji mesti bercukur. Ini tak sekadar rambutmu dipangkas atau dirapikan. Tapi, membuat kita merasa bersih dan nyaman. Terasa seperti berembus dingin udara pegunungan yang membuat pori-pori kepala saya menjadi begitu peka, kata Kang Wahyudi. Seakan ada yang perlahan merembes keluar. Rasanya semua persoalan beban hidup menguap lewat kepala saya.

Baca juga: Hari Baik untuk Penipu – Cerpen Agus Noor (Media Indonesia, 15 Juni 2014)

Mungkin benar seperti yang dikatakan Pak Kur, semua orang memang harus bercukur, karena itu tanda kita bersyukur. Itulah kelebihan orang gundul. Karena berarti orang gundul orang yang paling tulus bersyukur, Kang Wahyudi tertawa. Dan jari-jari itu, ah, jari-jari Tukang Cukur itu, saya bisa merasakan kulit jarinya yang kasar bergesekan dengan kulit kepala saya. Jari-jari itu lebih tajam daripada pisau cukur baja yang paling tajam sekalipun.

Kang Wahyudi bercerita tentang bocah bajang yang diantar ibunya ke Tukang Cukur itu. Rambut bocah itu panjang gimbal dan sudah seperti akar. Diantar ibunya, yang sudah menjamas rambut gimbal anaknya dengan air tujuh sumber, bahkan telah meruwatnya dengan upacara potong rambut, tetapi rambut anak itu tak pernah bisa dipotong. Pisau dan gunting yang digunakan untuk mencukur rambut gimbal bocah itu selalu patah. Rambut gimbal itu terus memanjang. Kepala bocah itu penuh bintil-bintil merah koreng. Si ibu tahu tentang Tukang Cukur itu karena bermimpi didatangi seseorang—ia yakin itu adalah Nabi Khidir. Mulamula bocah itu ketakutan dan meronta, tetapi perlahan tenang setelah Tukang Cukur itu mengusap-usap rambut gimbalnya. Bahkan kemudian tertidur pulas. Setelah itu, dengan tenang, Tukang Cukur tersebut memulai memangkas. Kres kres kres kres. Jari-jari itu terlihat ringan memotong. Seperti pisau tajam memangkas alang-alang. Koreng di kelapa bocah itu seketika bersih.

Baca juga: Pelahap Kenangan – Cerpen Agus Noor (Kompas, 29 Juli 2018)

Kadang, kata Kang Wahyudi, saya membayangkan, dengan pelan pun jari Tukang Cukur itu bisa menyayat urat leher atau memotong kayu yang keras.

Berkali-kali Kang Wahyudi menyarankan agar ia bercukur ke Tukang Cukur itu.

***

Arsip Cerpen di Indonesia