Dan anehnya, aku seperti orgasme saat melihat kemuakan ayah pada bangkai anjing yang kuceritakan. Rasanya jauh lebih nikmat tinimbang saat aku meracap diam-diam di kamar sepulang sekolah.
***
“AKU tadi mancing di Sungai Lematang bersama Alan,” ucapku saat aku, ibu, dan ayah menikmati makan malam. Aku ingat sekali, saat itu aku sudah duduk di kelas 3 SMA. Dan misteri tentang kenapa ayah sangat membenci bangkai anjing belum terpecahkan olehku.
Aku memang pergi memancing dengan kawan sekelasku itu. Dan seperti mendapat anugerah luar biasa, aku melihat seekor bangkai anjing tersangkut pada rimbun semak yang menganjur ke dalam sungai. Keempat kaki anjing itu terangkat ke atas, lalat-lalat hijau besar berdengung-dengung laksana sekompi tentara yang siap pesta besar di atas perutnya yang menggembung. Alan seketika muntah saat hidungnya mencium aroma busuk luar biasa. Ganjilnya, aku tersenyum dan merasa girang bukan kepalang.
“Apa kau dapat ikan?” pertanyaan ibu membuyarkan ingatanku pada bangkai anjing itu.
Aku menggeleng, “Tidak.”
Kulirik ayah yang masih sibuk mengunyah makanannya.
“Tapi, aku menemukan bangkai anjing.”
Baca juga: Utang Darah Manusia Harimau – Cerpen Guntur Alam (Jawa Pos, 29 Juli 2018)
Seketika meja makan kami menjadi hening. Ayah menghentikan sendok berisi nasi yang hendak dia suap. Ibu menoleh kepadaku. Aku melempar senyum untuk ayah sekaligus memberikan wajah menantang. Dari ekor mataku, aku bisa melihat ibu meremas kain rok di atas pahanya. Punggung ibu tegak lurus, seperti menahan napas. Matanya lurus menatap ayah yang mematung. Pandangan ayah tertuju padaku. Aku masih bersetia dengan senyumku.
“Keempat kaki bangkai anjing itu teracung ke atas,” aku melanjutkan cerita. Seketika tangan kiri ibu yang ada di bawah meja menarik bajuku. Aku bergeming, seolah-olah tak memahami isyarat dari ibu.
“Perut bangkai itu membuncit. Seperti akan meledak. Lalat hijau sangat banyak. Besar-besar. Berdengung macam sirene perang. Kurasa belatung-belatung dalam perut bangkai itu sangat gemuk. Jika saja perutnya meledak saat kutusuk dengan kayu.”
“Bangsat!”