“Lalu, apa hubungan dengan ayah dan bangkai anjing?”
Ibu mencengkeram roknya. Dia sedikit gemetar.
“Kakekmu,” suara ibu mendesis, “Ayahku….” ibu menelan ludah. Dia meluruskan punggung, menghela, lalu menghirup napas kembali.
“Ayahku juga dibawa oleh orang-orang itu. Padahal, beliau sudah bersembunyi. Tak ada yang tahu persembunyiannya selain kami. Kakekmu juga tak bersalah. Dia tak tahu apa-apa. Ibu yakin itu. Kakekmu taat sembahyang.” Mata ibu memerah, kaca-kaca perlahan pecah di sana.
Baca juga: Dongeng Nostradamus – Cerpen Guntur Alam (Jawa Pos, 29 Januari 2012)
“Kami histeris saat kakekmu dibawa pergi, tapi kami tak bisa berbuat apa-apa. Lebih dari dua minggu kami menunggu dalam cemas sembari berharap kakekmu pulang. Tapi, hari menyedihkan itu datang. Ayahmu menemukan mayat ayahku tersangkut di semak pinggir sungai. Mayat ayahku ditemukan bersama bangkai anjing.”
Aku menelan ludah. Malam itu terasa ganjil sekali bagiku.
***
BERTAHUN-TAHUN setelah cerita ibu malam itu, aku tak pernah mengisahkan apa pun tentang bangkai anjing kepada ayah ataupun ibu. Tentu rekaman masa lalu itu sangat mengerikan bagi ayah. Dia menemukan ayah gadis pujaannya—mereka sudah berpacaran kala itu kata ibu—membusuk bersama bangkai anjing di pinggir sungai. Jadi, adalah ganjil sekali ketika usai tahlilan malam ketujuh kematian ibu, ayah tiba-tiba mendekat kepadaku dan berkata, “Aku ingin berbagi rahasia tentang bangkai anjing yang membusuk di pinggir sungai.”
Baca juga: Mar Beranak di Limas Isa – Cerpen Guntur Alam (Kompas, 20 Maret 2011)
Aku memandangnya bingung. Hanya kami berdua di teras belakang. Anak-istriku sudah terlelap bersama sanak keluarga di dalam rumah. Ayah memandangku dengan mata berkaca-kaca. Dia mengambil tanganku. Aku bergeming.
“Kupikir,” mata ayah menerawang jauh, menembus langit malam. “Aku akan membawa rahasia ini sampai ke liang kubur.” Ayah menoleh, memandangku. “Tapi, kurasa aku tak sanggup membawanya sampai mati. Seharusnya, rahasia ini kubagikan pada ibumu. Tapi, aku terlalu pengecut. Aku takut dia membenciku. Tak ada hal yang lebih menyakitkan daripada dibenci oleh orang yang kita cintai, bukan?”
Aku menelan ludah, kesat. Sepasang air mata mengalir di pipi keriput ayah.