Bangkai Anjing dalam Kepala Ayah

Ibu merapikan kotak P3K. Dan seperti akan beranjak, meninggalkanku. Aku seketika mengambil lengannya. Menahan langkah ibu.

“Ceritakan padaku.” Mata kami bertemu di kekosongan udara. Dan sekali lagi ibu menghela napas. Aku mengerjap. Memohon.

“Dan kau berjanji untuk tak mengusik luka ayahmu lagi?”

“Akan kucoba.”

“Berjanjilah?”

Aku mendengus. “Baiklah. Aku berjanji.”

Ibu duduk kembali di sisi ranjang. Dia terlihat berkali-kali menghela napas, seakan-akan cerita yang akan dia ungkapkan adalah kisah penuh lebam.

Baca juga: Dua Wajah Ibu – Cerpen Guntur Alam (Kompas, 5 Agustus 2012)

“Di pengujung tahun ’65,” ibu membuka ceritanya. “Pasca-peristiwa Gerakan 30 September, terjadi pembersihan besar-besaran di kota ini, termasuk kampung kita. Setiap hari ada saja mobil-mobil truk yang datang dan membawa orang-orang. Dan setiap yang pergi tak akan pernah kembali.”

Kata ibu, waktu itu umur ayah 14 tahun, sementara ibu berusia 10 tahun. Jadi, mereka berdua sudah punya ingatan yang cukup bagus akan peristiwa yang terjadi. Namun, ibu tak tahu siapa yang membawa orang-orang itu. Setiap malam rumah-rumah akan lengang dan gulita. Seluruh penghuninya berdebar-debar, khawatir kalau pintu rumah mereka diketuk seseorang. Bila itu terjadi, terdengar teriakan histeris dan tangisan pilu. Tapi, tak akan ada yang berani membuka pintu untuk mencari tahu. Semua orang pura-pura tuli sembari berdoa bukan pintu rumah mereka yang diketuk. Besoknya, barulah orang-orang akan bertanya dalam bisik-bisik, siapa yang dibawa semalam?

“Konon katanya, orang-orang itu dibawa ke daerah yang bernama Pembantaian sekarang. Lokasinya di jalan perlintasan rel kereta api bila kita ke Muara Enim.”

Baca juga: Tamu Ketiga Lord Byron – Cerpen Guntur Alam (Koran Tempo, 16 Oktober 2011)

Aku langsung tahu dengan tempat yang ibu kisahkan.

“Tak hanya orang kampung kita. Banyak dari kampung-kampung lain. Bahkan, katanya, orang-orang yang dibawa dari Talang Ubi sana diseret dengan truk.”

Aku bergidik.

“Beberapa bulan lamanya Sungai Lematang dipenuhi mayat.” Aku bisa melihat bulu kuduk di tangan ibu meremang. “Setiap ada rakit pohon pisang yang hanyut, orang-orang yang keluarganya hilang pasti langsung histeris dan menangis. Sebab, di setiap rakit pohon pisang itu pasti ada mayat. Sekurang-kurangnya tiga mayat dalam satu rakit. Tak hanya dihanyutkan dalam rakit, mayat-mayat juga dihanyutkan sembarangan. Air Sungai Lematang beraroma busuk. Bahkan, tak ada orang yang berani memakan ikan dari sungai setelah ada yang menemukan jari manusia dalam perut ikan.”

Aku ingin muntah lantaran teringat dengan ikan yang kami santap di meja makan tadi.

Arsip Cerpen di Indonesia