Tiba-tiba ayah berteriak. Lalu, aku mendengar suara kursi didorong paksa. Dan gelas pecah berkeping-keping di lantai. Ibu terlonjak. Tangannya mencengkeram kuat rok di atas pahanya. Tubuhnya menggigil. Aku bergeming dan tetap tersenyum sembari menatap wajah ayah yang memerah, seperti ada larva yang akan muntah dari kepala ayah.
“Bangkai anjing itu seperti….”
“Setan kau!”
Ayah tiba-tiba melompat, menghancurkan isi meja makan, menerjang ke arahku. Aku tak sempat menghindari. Piring-gelas dan apa pun berjatuhan. Menciptakan irama yang terdengar begitu harmonis tetapi ganjil. Ibu menyempurnakan irama itu dengan jeritan panjang sembari berdiri dari duduknya.
***
Baca juga: Mati – Cerpen Guntur Alam (Koran Tempo, 12-13 Mei 2018)
TANGAN ibu gemetar ketika mengelap wajahku dengan sapu tangan basah. Aku meringis, menahan perih. Kamarku begitu hening. Kuduga, ayah pasti berada di teras, mengisap rokoknya dalam-dalam dan mengembuskan asapnya begitu kuat. Begitulah yang dia lakukan jika tengah kesal atau marah atau bisa jadi tengah depresi.
“Ibu kan sudah bilang, jangan pernah bahas apa pun tentang anjing, terlebih bangkainya, di depan ayah. Jangan menyulut emosi ayahmu.”
Aku kembali mendesis saat ibu kembali mengelap luka di pelipisku dengan sapu tangan basah. Setelah merasa lukaku bersih, ibu meletakkan sapu tangan ke dalam baskom kecil berisi air, lalu membuka kotak P3K.
“Kenapa?” aku bertanya. Pertanyaan yang telah berpuluh kali kuulang kepada ibu. Sejak misteri “kenapa ayah membenci bangkai anjing” menghantui imajinasi kanak-kanakku. Lalu dendam kepada ayah beranak-pinak dan aku begitu gigih untuk membalasnya.
Baca juga: Doa Arwah – Cerpen Guntur Alam (Tribun Jabar, 10 Juni 2018)
“Tak semua hal harus ada jawaban dan alasan, kan? Iya, kan?” ibu justru balik bertanya. Seperti yang sudah-sudah.
“Berarti, akan banyak kisah bangkai anjing yang kuceritakan pada ayah.” Dan aku pun mengikuti kehendak ibu.
Aku mendengar ibu menghela napas. Dia mengoleskan obat merah di pelipisku dan aku kembali mendesis menahan perih.
“Apa lukamu terasa perih?” ibu bertanya dan kurasa itu pertanyaan yang konyol sekali.
“Ya,” tapi tetap kujawab.
“Begitu juga yang ayahmu rasakan,” sambung ibu. Aku mengernyitkan kening.