Bangkai Anjing dalam Kepala Ayah

“Aku tak ingin ibumu membawa kebencian dan ingatan buruk tentangku ke alam kuburnya.”

Ayah memandangku dengan mata lembap. Dia mengambil tanganku. Aku bergeming.

“Ibumu pasti sudah menceritakan penyebab ayah membenci bangkai anjing,” ucapnya, yang kujawab dengan anggukan. “Ya, aku menemukan ayahnya membusuk bersama bangkai anjing di pinggir sungai. Ada bekas luka tembak di dadanya. Juga bekas luka-luka lainnya.” Tangan ayah terasa dingin sekali di telapak tanganku.

“Tapi, ada yang ibumu tidak tahu,” suaranya bergetar. Hening beberapa detik. Aku menahan napas.

“Aku yang memberi tahu persembunyian ayahnya.”

Baca juga: Tanah Air – Cerpen Martin Aleida (Kompas, 19 Juni 2016)

Hening. Terasa ganjil sekali sunyi ini. Kami bersitatap tanpa suara. Aku menelan ludah.

“Kau pasti bertanya, kenapa aku setega itu?” air mata ayah mengalir, “Karena orang-orang itu hampir menemukan ayahku.” Jawabnya, dengan suara yang gemetar.

Aku tertegun. Tanganku terasa kebas. Kupandang ayah. Baru kusadari, betapa dia telah bertahun-tahun kehilangan kepalanya karena digerogoti belatung dari bangkai seekor anjing yang dia peram dalam kepalanya.

Malam terasa jauh lebih ganjil daripada saat ibu mengisahkan rahasia ayah berpuluh tahun lalu. Dan perutku mual sekali, rasanya aku hendak muntah, tapi tak bisa. (*)

 

Pali, September 2017–Juli 2018

Seperti yang dikisahkan Kajut Munif. Untuk Pak Martin Aleida, terima kasih untuk cerita-ceritanya yang membuat mataku kerap basah. Terus berkarya, Pak.

Guntur Alam. Menulis cerita pendek dan berkebun di pekarangan. Buku kumpulan cerita pendeknya, Magi Perempuan dan Malam Kunang-Kunang, diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 2015. Saat ini bekerja dan menetap di Pali.

Arsip Cerpen di Indonesia