Lima Renjana

Brakkk! Aku melompat terburu dari ranjang. Kembali kucermati perlahan diriku di depan cermin. Memastikan lebih jelas, kulepas semua pakaianku, bertelanjang bulat. Oh  celaka, apa aku sedang alergi atau apa? Apa aku dikutuk atau terkena sengatan hewan mematikan? Ya Tuhan, apa aku tidak salah lihat? Tubuhku menguning.

***

Lilin di kue itu bahkan sudah habis menyulut dirinya sendiri. Namun tidak ada yang datang. Air mataku rebas lengkap dengan sesenggukan. Ulang tahunku berakibat masygul.

Baca juga: Api Kenangan – Cerpen Latif Fianto (Radar Banyuwangi, 02 September 2018)

Sudah sekitar setahun aku sakit. Dan semakin penyakitku bertambah buruk, semakin mereka hilang kabar dan pada akhirnya mereka tak lagi menemuiku. Pada awalnya aku masih sering mengunjungi mereka satu per satu bahkan beberapa kali aku melihat mereka berempat bersama tanpa mengajakku. Rumahku adalah yang terujung, disusul oleh rumah Panjo, Ateng, Ocin, lalu Cilo. Rasanya sepi sekali tanpa mereka. Biasanya, tiada hari tanpa kita lewati berlima karena memang hanya kita penduduk di Bukit Telapak. Sangat menyakitkan rasanya saat kini aku harus mengakui fakta yang selama ini aku sangkal dalam-dalam bahwa mereka telah melupakanku.

Prang!!! Cermin yang selalu jujur itu pecah berserakan. Rasanya aku sangat frustasi pada diriku sendiri. Beberapa kali aku pergi ke dokter dan dengan teratur meminum obat-obatan yang ‘katanya’ akan membuatku pulih. Namun, tak ada hasil yang menjanjikan. Aku terlihat sangat buruk rupa. Kulitku menjadi kuning dan mengelupas, tubuhku membengkak, badanku selalu lemas, dan terkadang seperti mati rasa. Dan bagian terburuknya, aku kesepian.

Baca juga: Perkawinan Akhirat – Cerpen Mukti Sutarman Espe (Radar Banyuwangi, 23 September 2018)

Hmmm aku tidak bisa terus-terusan begini! Aku akan menghampiri mereka. Senja sudah datang, pasti mereka sudah pulang kerja. Ya, benar sekali. Aku yang biasanya jarang keluar rumah akan memaksakan diriku untuk keluar dari posisi yang kurang nyaman menjadi posisi yang semakin tidak nyaman.

Aku keluar rumah, dan kejutan.

Sialan!

Aku bisa melihat kini rumahku dan rumah Panjo, Ateng, Ocin, Cilo berjarak. Kau tahu? Aku dipisahkan, dikucilkan. Kepalaku menyembul ke bawah, jurang yang sangat dalam, gelap. Menakutkan. Entah setan kotor apa yang merajai mereka hingga berbuat seperti ini padaku. Tak akan ada yang bisa mengubah tekad bulatku untuk menemui mereka. Hariku untuk bertemu mereka tertunda, tapi akan kupastikan bahwa besok akan ada jembatan yang siap menyeberangkan antara bukitku dan bukit mereka yang terpisah jurang.

Kalian memang sesuatu, hahaha.

***

Arsip Cerpen di Indonesia