Lima Renjana

“Iya, tunggu sebentar,” terkejut. ‘Dia’ ada di sini, di ambang pintu. “Kamu. Kukira sudah amnesia denganku,” Panjo tersenyum dan menghela napas lega, ia langsung nyelonong masuk dan menutup pintu.

“Ternyata Polluku sudah sembuh. Ayo,” ia menggandeng tanganku, menggiringku untuk duduk di ruang tamu. Aku masih bingung dengan kehadirannya yang tiba-tiba, setelah pertemuan terakhir kita, setelah sebulan lamanya, dan sekarang dia ada di rumahku, bersikap seolah dialah tuan rumahnya.

Baca juga: Azan untuk Bapak – Cerpen Haryo Pamungkas (Radar Banyuwangi, 19 Agustus 2018)

Aku rindu padanya, namun aku juga masih kecewa. “Untuk apa kamu datang kemari?” aku menjawab tanpa menatap wajahnya. Kami duduk bersebelahan, ia menatapku lekat dan menggenggam tangan kiriku. Sementara aku tetap menatap lurus ke depan. Tak meliriknya sama sekali.

“Tolong, dengarkan penjelasanku dulu. Aku tahu aku yang salah, aku tahu aku membuatmu marah dan kecewa. Bahkan aku terlambat datang, kau sudah sembuh dan di masa terpurukmu aku tak ada di sana. Aku sangat menyesal. Tapi, tolong maafkan aku,” pada awalnya aku tak menghiraukannya sama sekali, namun lama kelamaan aku luluh padanya dan kami berbaikan. Rupanya setelah kejadian kami berlima bertengkar dan aku pergi, mereka berempat beradu pendapat tentang sikap mereka padaku. Panjo mengakui kesalahannya dan mengajak yang lain menemuiku untuk meminta maaf, namun nihil. Yang lain yang tidak peduli.

***

Nyala lilin dan bayangannya tertangkap pier glass secara terbalik dan terkoreksi kembali ketika dia memasuki ruang tamu juga ketika dia menutup pintu.

Baca juga: Ada yang Mencuri Imajinasiku – Cerpen Eni Kusuma (Radar Banyuwangi, 12 Agustus 2018)

“Tak akan ada yang berubah jika diam yang selalu dilakukan. Harus ada yang mengalah untuk kebaikan. Ayo,” Panjo menarikku paksa dari dalam rumah, membuat koran pagi yang masih hangat dikirimkan merpati jatuh berserakan di samping kursi goyang yang geraknya aktif akibat terguncang paksa.

Jadi, kami berdua berencana memperbaiki hubungan dengan yang lain. Aku dan Panjo telah melewati jurang yang menghalangi rumahku dan Panjo. Dan siapa sangka keadaan menjadi sepi senyap. Kami berlima, memiliki jarak tiap-tiap rumahnya. Tak kusangka sekacau ini. Awalnya rumahku dan mereka berempat dipisahkan jurang. Kini semua terpisah. Rumahku dan Panjo terpisah jurang, rumah Panjo dan Ateng terpisah lembah, rumah Ateng dan Ocin terpisah danau, dan yang terakhir, rumah Ocin dan Cilo terpisah lautan.

Arsip Cerpen di Indonesia