Lima Renjana

“Jangan terlalu melongo. Hal ini sudah terjadi lama, dan aku yakin tak ada yang tidak merasa kesepian karena hal ini. Maka dari itu aku memulainya dengan menemuimu. Ayo kita bereskan,” aku mengangguk setuju, merangkulnya pelan. Bangga akan dirinya.

Cukup memakan waktu untuk melewati lembah berdua, dan kami bertemu Ateng. Melihat kami berada di hadapannya, ia menangis dan memeluk kami. Bibirnya terus mengucap maaf dan sangat kentara dia menyesal, tubuhnya mengering. “Tidak ada kebahagiaan tanpa aku bersama kalian. Maafkan aku,” ucapnya.

Kami bertiga menghabiskan semalaman dengan tawa dan sesekali tangis haru. Sekali lagi, aku bertemu sahabatku. Ini rindu yang besar. Untuk hari esok, kami bertiga akan memulai perjalanan menyeberangi danau untuk menemui Ocin.

Baca juga: Suatu Ketika di Ruang Gawat Darurat – Cerpen Des Alwi (Kompas, 30 September 2018)

Sepertinya badai mulai mengembalikan musim semi yang indah.

“Panjo, Pollu, Ateng. Kalian…” lalu ia memasuki rumah dengan bisu namun membiarkan pintu tetap terbuka. “Maafkan aku. Aku yang menyebabkan kita berlima berpencar karena diriku yang berubah menjadi monster. Tapi aku sudah sembuh dan kita bisa bersama lagi,” ia menatapku dan langsung menghamburkan pelukannya padaku. Lagi dan lagi, kata maaf yang terus berulang.

Kami berempat kembali bersama. Setelah cerita yang panjang, pada tengah malamnya kami menyusun rencana menemui teman yang terujung, Cilo.

Sebuah mimpi yang datang selama tiga hari berturut-turut. Rasanya pagi ini aku menjadi sepuluh kali lebih bahagia. Setelah empat hari kami bekerja keras membuat kapal untuk menyeberangi lautan, kini saatnya tiba untuk mengulang kata ‘kita’ yang pernah hilang.

Baca juga: Riwayat Cermin – Cerpen Irul S Budianto (Republika, 30 September 2018)

“Bagaimana ini? Kapal kita akan tenggelam!” Semua panik tak terkecuali aku. Sudah tiga perempat jalan dan kapal kami menghantam sesuatu menyebabkan bagian bawah berlubang dan air terus naik. Hari ini harusnya adalah saat di mana semua kebahagiaanku yang pergi akan kembali. Namun sepertinya takdir berkehendak lain. Air menggenang sudah semakin tinggi dan kami tidak bisa berbuat apa-apa kecuali saling berpegangan tangan.

“Aku bangga memiliki teman seperti kalian,” ucapku dengan senyuman setulus mungkin. “Maafkan aku jika pernah menyakiti kalian. Kalian adalah saudaraku untuk selamanya,” kami mulai merapatkan diri satu sama lain. “Karena kalian, adalah segalanya maka sungguh, terima kasih. Aku harap ada yang mengatakan pada Cilo bahwa kita berempat berusaha menemuinya dan memperbaiki segalanya bersama,” kami berempat mengangguk bersamaan dan berangkulan melingkar.

“Katakan sendiri padaku!” Tiba-tiba datang sebuah boat yang cukup besar.

***

Arsip Cerpen di Indonesia