“Jadi, kenapa kalian meninggalkanku sendiri?”
Terkejut dan mematung. Itu adalah dua hal yang mereka lakukan saat mereka melihatku ada di sana untuk menemui mereka berempat. Dan tepat sekali, mereka sedang bersama.
“Kenapa? Kaget aku bisa ada di sini? Kaget aku bisa melewati jurang yang kalian buat untuk memisahkanku dari kalian?” Tak ada yang mendekat.
“Bagaimana kau bisa melewatinya?”
“Tidak penting, Cil. Yang penting adalah kenapa kalian berempat meninggalkanku sendiri? Hei, kawan. Kita berlima tidak terpisahkan. Bahkan, kita berlima tidak mempunyai jarak satu sama lain. Kenapa? Kenapa aku ditinggalkan sendiri? Apa salahku? Katakan!” Kurasa, Pollu yang biasanya paling tegar di antara lainnya kini menjadi Pollu yang cengeng. Hatiku benar-benar terlukai.
Baca juga: Huruf – Cerpen Midadwathief (Radar Banyuwangi, 01 Juli 2018)
“Bukan begitu maksud kami, Pol,” Ocin mendekat padaku dua langkah. Namun masih tak cukup dekat denganku.
“Lalu apa maksudnya? Kenapa jadi begini?” Aku berusaha mendekat, dan mereka melangkah mundur. Menjaga jarak. Aku diam, mematung. Emosiku semakin meluap. “Jadi, kalian takut? Jijik? Tidak suka? Karena aku penyakitan?”
“Kami hanya berusaha mempertahankan diri agar tetap sehat,” satu kalimat dari Ateng menjelaskan semua sebabnya.
“Oke, aku sekarang tau jawabannya. Kalian meninggalkanku sendiri, membuat jarak denganku. Ternyata kalian takut penyakitku menular. Seharusnya kalian ada di saat masa terburukku, setidaknya memberiku semangat. Kita pernah berjanji akan selalu bersama. Bahkan kita adalah satu kesatuan tanpa jarak, tapi sekarang aku… Ah sudahlah! Terima kasih. Sekarang kata ‘kita’ mungkin sudah menjadi ‘’kalian’ dan ’aku’. Terima kasih. Terima kasih sangat, teman,” lalu aku berlari sekuat-kuatnya meninggalkan mereka.
Rupanya badai semakin kuat datangnya, tak kusangka.
***
Baca juga: Musim Panen dan Hewan Kurban – Cerpen Ali Satri Efendi (Radar Banyuwangi, 26 Agustus 2018)
20 Juli 2021.
Musim hujan dan Pollu yang sudah pulih seutuhnya.
Sudah tiga bulan sejak kami berpisah. Rasanya hanya aku seorang yang hidup di planet ini. Lebay, tapi itulah perumpamaan yang tepat bagi situasiku saat ini.
Toktoktok.
“Pol… Pollu, apa kau ada di rumah?”
Suara itu, rasanya tak asing.