Lima Renjana

Kami meluruskan kaki di tepi pantai. Mengizinkan angin mencumbu lembut wajah yang lapang riang. Dengan baju basah kuyup dan kulit menyentuh pasir putih hangat. Kami tertawa bersama saat menyadari bahwa tadi Cilo cukup berani dengan penyelamatannya, dan kami cukup keren menaiki boat bersama sambil menyanyikan lagu Rather Be-nya Clean Bandit dengan lantang.

Baca juga: Bangkai Anjing dalam Kepala Ayah – Cerpen Guntur Alam (Jawa Pos, 30 September 2018)

Cerita kita berlima yang pernah hilang akan menjadi kenangan buruk yang dijadikan sebagai guru terbaik untuk ke depannya. Kami mengakui kesalahan masing-masing dan kembali bersama menjadi satu kesatuan yang utuh.

Ternyata, berpisah dengan waktu yang cukup lama tidak membuat kami menjadi orang lain atau saling canggung saat kembali bertemu. Kami tak pernah berubah untuk satu sama lain. Aku bersyukur bahwa tawaku bisa terbagi dengan tawa yang lain, tawa mereka berempat. Sebenarnya memanglah bukan siapa yang paling lama bersama, namun seberapa besar usaha untuk saling melengkapi dan mempertahankan. Meskipun kita pernah berpisah dan pada akhirnya kita memang memiliki jarak satu sama lain, tapi bukan berarti kita tidak bisa berjalan beriringan, untuk tetap selalu bersama.

 

Jihan Nabilah Yusmi, siswa kelas XI IPA 2 di SMAN 1 Glagah, Banyuwangi.

Arsip Cerpen di Indonesia