Petang di Taman

Aku mengingat dan menghitung dengan jari. Ternyata sudah lima belas tahun aku mengenal dan bekerja bersamanya. Wina memang tidak suka dipanggil “Nyonya”. Aku ingat ketika aku—seorang anak yatim piatu—datang bersama bibiku, Wina menyambutku dengan manis. Ia menarikku ke pangkuannya dan memberiku setangkai gula-gula. Aku yang masih bingung dengan situasi saat itu, berkata padanya, “Terima kasih, Nyonya.” Ia mengusap rambutku. “Jangan panggil aku Nyonya. Namaku Wina. Panggil aku Wina.”

Aku tidak mengangguk atau pun menggeleng. Aku masih merasa asing dengan suasana kios yang penuh majalah dan koran-koran. Dan aku merasa sangat sedih melihat bibiku terisak-isak di hadapan Wina. Ia terlihat kuyu dalam balutan jaket coklatnya. Wina menghiburnya. Ketika itu, aku sama sekali tidak dapat menangkap pembicaraan mereka.

Baca juga: Celurit Lelaki Idiot – Cerpen A.Warits Rovi (Padang Ekspres, 08 Juli 2018)

Kemudian, bibiku tidak pernah kembali. Ia tidak pernah datang menjemputku. Mula-mula aku menangis. Aku menangis setiap hari. Lama-lama aku tidak bertanya lagi mengapa bibiku tidak pernah datang. Ketika aku memasuki usia remaja, suatu hari Wina berkata padaku bahwa ia terpaksa mengasuhku.“Terpaksa, Nak. Kau dengar?” katanya.

“Kau menelepon dengan kekasihmu tadi malam. Aku mendengarnya. Kau menelepon sampai larut. Itu sebabnya kau terlambat bangun pagi.”

Baca juga: Penjaga Buku dan Tokoh Fiksi yang Tidak Bahagia – Cerpen Yetti A. KA (Padang Ekspres, 12 Agustus 2018)

Aku terdiam. Aku sudah bosan mendengar tuduhan Wina yang bukan-bukan. Sejak beberapa bulan terakhir, ia selalu menyalahkan dan menyerangku dengan bermacam-macam tuduhan. Kemarin ia mengatakan aku terlambat karena menelepon malam-malam. Dan sekarang ia mengatakan tuduhan yang sama dengan penambahan embel-embel “kekasih.”

Segalanya terjadi begitu mendadak ketika dua hari yang lalu Wina bercerita bahwa ia rindu dengan anak dan cucunya yang tinggal di kabupaten. Ia ingin menjenguk mereka dan mengajakku turut serta. Aku tidak pernah tahu Wina memiliki keluarga. Aku sangat yakin ia hanya hidup sendiri. Bahkan aku percaya selama ini ia tidak memiliki anak yang tinggal di kabupaten apalagi cucu.

Arsip Cerpen di Indonesia