Petang di Taman

“Oh, ya?” tanya Wina. Aku pikir ia akan melemparku dengan puntung rokoknya yang masih menyala. Ternyata Wina melemparnya ke halaman. Puntung rokok itu hanyut dalam genangan hujan. Kini, Darwin keluar lagi sambil mengangkut galon. Gerakannya keluar masuk tak henti-henti. Berturut-turut ia mengeluarkan tabung gas, kardus-kardus, barang-barang anti pecah, dan meletakkan semuanya di etalase toko. Sebelum masuk kembali, ia melambai lagi ke arah kami.

Wina mencibir. “Darwin benar-benar menyukaimu. Lihat, laki-laki tua dan botak itu. Dasar, hidung belang.”

Baca juga: Seorang Tukang Ojek dan Haji Mardun – Cerpen Mahan Jamil Hudani (Padang Ekspres, 22 Juli 2018)

“Darwin itu seumuran denganmu. Dia pasti lebih menyukaimu,” kataku tanpa bermaksud apa-apa. Sebab, aku mulai berpikir ketika Darwin melambaikan tangannya setiap kali aku dan Wina duduk berdua di kios, barangkali lambaian tangan itu ditujukan hanya untuk Wina.

“Kau mencium bau busuk?” Wina mengernyitkan dahi. Ia bangkit dari kursinya. Wajahnya tiba-tiba berubah tidak enak.

“Tidak,” jawabku sekenanya.

Wina mengangkat roknya sedikit dan membungkuk ke bawah kursi seolah sesuatu yang berbau busuk itu muncul dari sana. Ia berjalan gelisah menggeser meja dan rak tempat koran dan majalah diletakkan sambil mendengus tak henti-henti. Ia bahkan merangkak di kolong meja.

Baca juga: Laki-laki di Ketiak Istri – Cerpen Zainul Muttaqin (Lampung Post, 22 Juli 2018) 

“Seperti apa baunya?” Aku bertanya tanpa rasa ingin tahu sebab aku mulai risih dengan sikapnya yang merayap-rayap di kolong meja.

“Bau busuk. Seperti bangkai.” Ia bangkit sambil mengibaskan roknya dari debu lalu berjalan ke beranda. Langkahnya tegap dan pasti. Aku membiarkannya sibuk sendiri hingga aku mendengar jeritannya yang keras. Wina menyebut namaku.

“Apa yang terjadi?” Aku ikut terkejut.

“Lihat! Bangkai tikus!” teriaknya. “Kemarin sampah dan sekarang bangkai tikus!” sahutnya gelisah.

Seekor tikus gemuk teronggok di kaki pot bunga kamboja. Begitu mengenaskan dan menjijikkan. Masih ada bercak darah. Bau busuk yang menyeruak seketika membuatku ingin muntah. “Aku yakin Darwin yang melakukannya. Dia tidak suka padaku. Ini pasti ulahnya.” Wina memejamkan matanya. Ia tak tahan melihat bangkai itu.

Arsip Cerpen di Indonesia