“Siapa namanya? Dia tidak bekerja, ya?” tanyanya dengan nada tinggi.
Sebentar hujan terlihat reda, tapi secara mendadak tumpah ruah lagi seperti bah. Samar-samar aku melihat toko di seberang mulai buka. Toko itu toko kelontong. Pemiliknya seorang lelaki paruh baya bernama Darwin.
“Siapa namanya? Katakan padaku siapa namanya, Nak.”
Aku menoleh ke arah Wina. “Zidan. Namanya Zidan.”
Baca juga: Teh Kenangan – Cerpen A. Warits Rovi (Padang Ekspres, 30 September 2018)
“Oh, seperti nama pesepakbola, ya,” sahutnya mengejek. Wina mengangkat salah satu kakinya, lalu ditumpukan di atas kakinya yang lain.
“Dia benci sepakbola,” kataku. Aku melihat Darwin melambaikan tangan. “Sebenarnya, dia tidak suka olahraga.”
Wina meraih kotak rokoknya dan menyulut sebatang.
“Sekarang dia sudah bekerja,” kataku menambahkan.
Wina hanya bergumam “Oh” sambil menghembuskan asap rokok dan mengayun-ayunkan kakinya.
Baca juga: Petuah Parihin untuk Yulian – Cerpen Rifat Khan (Padang Ekspres, 05 Agustus 2018)
Aku menoleh ke arahnya, berharap ia tidak bertanya lagi. Wina terus mengayunkan kakinya. Aku terkesan melihat sikapnya yang tenang. Ternyata Wina memercayai semua kata-kataku. Tak ada kekasih. Aku tak pernah memiliki kekasih. Tak ada laki-laki yang kukenal yang bernama Zidan.
Darwin melambai lagi. Kali ini, Wina melihatnya.
“Darwin itu menyukaimu,” kata Wina. Pandangannya lurus ke depan sambil menyipitkan mata. Ia mengisap lagi rokoknya.
“Darwin memang begitu. Dia ramah kepada siapa saja,” kataku. Darwin segera melengos masuk ke dalam begitu ia melihat Wina memandang ke arahnya.
“Tapi, dia tidak ramah padaku.”
“Kau yang tidak ramah padanya. Kau tidak pernah ramah pada siapa pun,” kataku tenang.