Petang di Taman

Beberapa hari terakhir, beranda kios ini dipenuhi sampah. Kami mengira sampah-sampah itu diterbangkan angin. Esoknya, kami melihat lagi sampah di depan kios. Teronggok dalam tumpukan yang cukup tinggi. Aku terkejut bukan main. “Ini tidak diterbangkan angin. Ini ulah seseorang,” pikirku. Seminggu terakhir beranda kios selalu dipenuhi sampah dan Wina tak henti-hentinya menggerutu. Mula-mula ia menuduhku sebagai pelakunya. Aku berkeras menolak semua tuduhannya. Lalu, ia mungkin bosan dengan kelakuannya sendiri yang gemar menyalahkanku. Ia kemudian menyebut Darwinlah pelakunya.

Baca juga: Pembaca Neraka – Cerpen Zainul Muttaqin (Tribun Jabar, 03 Juni 2018) 

Aku menoleh ke arah seberang dan kulihat Darwin tersenyum melambaikan tangan. Ia lalu kembali sibuk merapikan barang-barang dagangannya. Melihat senyumannya, aku seperti tidak memiliki alasan untuk menuduh Darwin yang meletakkan bangkai tikus itu.

Wina mengumpat berkali-kali dan terlihat sangat marah. Ia mengumpat Darwin sambil melihat ke arah toko di seberang. Darwin tidak mendengar. Hujan turun lagi begitu lebatnya. Aku menghanyutkan bangkai tikus itu di selokan yang meluap oleh air hujan.

“Siapa kau kira pelakunya, Nak?” Wina menyulut rokok. Ia tampak lemas. Aku memandangnya dan memerhatikan wajahnya. Ia sebenarnya baik, pikirku. Meski ia berlidah tajam dan sering mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Lalu, sesudah itu ia dapat bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa. Ia tetap pada posisinya, di atas, di singgasananya dengan wajah terangkat angkuh. Seolah ia dapat meminta siapa saja untuk membungkuk demi membersihkan debu dari sepatunya.

Baca juga: Burung-burung Ababil di Langit Kota – Cerpen A Warits Rovi (Media Indonesia, 06 Agustus 2017)

Wanita keras kepala ini. Ia amat anggun. Ia seperti memiliki kharisma yang begitu saja diturunkan ketika ia lahir. Itu sudah terlihat dari foto-foto yang dipajangnya. Foto-foto lama ketika ia masih aktif sebagai aktris teater. Ia bercerita masih menyimpan tiket masuk pertunjukan “Petang di Taman”. Katanya, itulah pertunjukan favoritnya.

Aku pernah menunjuk foto-foto itu. Ada seorang laki-laki yang mirip Darwin berpose dengan pakaian koboi. “Apakah laki-laki itu Darwin?”

Wina mengangkat alisnya. “Pakailah kacamatamu, Nak. Apa kau melihat tanda-tanda pada pria botak itu yang menunjukkan dia dahulu adalah seorang aktor?”

***

Arsip Cerpen di Indonesia