Baca juga: Tiomina – Cerpen Jeli Manalu (Padang Ekspres, 07 Oktober 2018)
Aku masuk kamar lebih awal. Wina mengira aku ingin cepat beristirahat karena merasa tidak enak badan sehabis membuang bangkai tikus itu. Aku menarik selimut dan mulai merebahkan diri. Tapi, mataku tidak mampu terpejam. Hingga tengah malam, aku tetap tidak bisa tidur. Aku mendengar suara langkah sepatu di beranda. Sesaat hening. Kemudian, terdengar lagi bunyi sepatu diikuti suara gemerisik. Aku memaksa bangun dan mengintip melalui jendela. Sesosok wanita membelakangiku. Dalam keremangan cahaya lampu, ia terlihat sedang sibuk menarik karung dan mengeluarkan isinya di beranda. Sampah dedaunan dikeluarkan dari karung itu! Sampah-sampah itu disebarkan secara merata ke setiap sisi beranda. Wanita itu sesaat berhenti, menyaksikan pekerjaannya dan seolah menimbang apa yang belum beres. Ia seperti sengaja memperlihatkan sebuah pertunjukan dengan aku sebagai satu-satunya penonton. Ia mengeluarkan sesuatu dari kantung roknya. Sebuah kotak rokok. Ia menyulut sebatang dan mengisapnya dengan tenang. (*)
Iin Farliani lahir di Mataram, Lombok, 4 Mei 1997. Mahasiswa Program Studi Budidaya Perairan, Universitas Mataram dan santri di Komunitas Akarpohon. Cerpennya terangkum dalam antologi Melawan Kucing-Kucing (2015). Kumpulan cerita pendeknya yang akan terbit berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (Akarpohon, 2018).