Anak-anak saling membicarakan perihal Bu Aisyah dan telepon genggamnya. Saya penasaran dan diam-diam menyelidiki Bu Aisyah. Saya ikuti dia saat jam pelajaran usai, dan saya melihat dia menggenggam telepon genggamnya memasuki ruangan guru. Setiba di depan ruang guru, telepon genggam itu tidak dia gunakan, tetapi dimasukkan ke dalam tasnya. Saya masuk dengan berpura-pura menemui guru bahasa Inggris yang kemarin ada janji bertemu. Ternyata guru bahasa Inggris saya sedang tidak ada di tempat. Dengan begitu, perhatian saya beralih pada Ibu Guru Aisyah. Saya menunggu lama di salah satu sudut, sambil melihat-lihat ke sekeliling ruangan dan menemukan guru-guru lain menelepon seseorang dengan telepon genggam masing-masing.
Saya perhatikan Bu Aisyah duduk dan seolah tidak peduli dengan keadaan sekeliling ruangan guru, di mana beberapa bapak dan ibu guru lain sibuk dengan gawai masing-masing. Bu Aisyah malah mengambil sebuah buku dan membolak-baliknya. Telepon genggam di dalam tasnya tidak dia lihat, apalagi digunakan. Hal ini meng ingatkan saya pada Bu Elliza. Kenapa Bu Aisyah mirip sekali dengan Bu Elliza. Sama seperti Bu Aisyah, Bu Elliza juga jarang menggunakan telepon genggam. Dia lebih banyak membaca buku. Dan Bu Elliza tidak pernah peduli dengan semua orang yang asyik dengan gadget masing-masing, sementara dia terlena dengan buku yang dibacanya. Terutama buku-buku sejarah nabawiyah.
Saya terkejut saat salah satu guru menegur saya dan bersamaan itu Bu Aisyah menoleh ke arah saya. Saya keluar dari ruangan guru sebelum ada yang mencurigai.
***
Di sekolah kami, meskipun ada peraturan larangan bagi murid-murid menggunakan telepon genggam pada jam pelajaran, hampir semua murid dengan sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan menggunakan telepon genggam. Yang penting tidak terlihat oleh bapak atau ibu guru. Kalau sudah selesai jam pelajaran, hampir semua anak mengeluarkan telepon genggam masing-masing. Baik menelpon seseorang, menggunakan medsos, mengetik pesan, atau sekadar memantau apakah ada tanda seseorang menghubungi teleponnya.
Kembali soal telepon genggam Bu Aisyah, saya jadi penasaran. Siang itu saya menguntit Bu Aisyah pulang ke rumahnya. Bu Aisyah tentu tidak melihat kalau ‘agen 007 KW 10’ sedang memata-matainya. Saya terkejut karena ternyata Bu Aisyah tinggal jauh sekali dari sekolah. Dia harus empat kali naik angkutan umum untuk bisa sampai gang rumahnya. Sementara, saya dengan sekali naik mobil pribadi, dalam waktu kurang dari lima belas menit sudah sampai garasi rumah.