“Den Rama, memangnya ada apa dengan Bu Guru kamu itu?” tanya Mang Markum, sopir pribadi yang suka kepo itu.
“Mamang tenang aja. Gak usah ikut campur. Mamang ikutin terus Bu Guru itu!”
“Jangan-jangan aden naksir ya?”
“Udah deh gak usah kepo gitu. Nah, mana tuh… kehilangan jejak, kaaaaan?”
“Dia sudah masuk gang, Den!”
“Ya sudah, Mang Markum tunggu di sini. Jangan ke mana-mana sebelum saya balik!”
“Siap, Den!”
Saya berlari ke arah gang kecil, tempat di mana Bu Aisyah turun dari angkot dan menghilang ditelan para penghuni gang lainnya. Saya berjalan perlahan, berusaha agar Bu Aisyah tidak melihat keberadaan saya. Sepanjang perjalanan dari mulut gang, saya bisa melihat sosok Bu Aisyah terus melangkah, dan tidak sekalipun saya melihat dia sedang menggunakan telepon genggamnya.
Tiba-tiba terdengar dering telepon genggam dan Bu Aisyah tampak mengabaikannya. Karena ternyata itu telepon genggam milik tukang siomay yang lagi mangkal di sudut gang, tidak jauh dari Bu Aisyah yang tengah melangkah. Tukang siomay itu lalu bicara di telepon genggam dengan bahasa daerah. “Haloooo… iya, urang sehat teh! Meu reun atuuuh…“ Tukang siomay terus bicara, dan saya tidak begitu peduli dengan ucapannya, fokus melangkah mengejar langkah Bu Aisyah.
Saya kehilangan jejak. Saya tidak menemukan Bu Aisyah karena sempat berpapasan dengan seorang pedagang yang membawa pikulan dari ujung gang lain. Saya harus menunggu pedagang itu lewat karena gang itu tidak muat oleh pikulan dan barang-barang yang dibawa oleh si pedagang. Setelah si pedagang melintas, saya bergegas ke arah perginya Bu Aisyah. Namun, saya dikejutkan oleh dua gang lain yang berbeda arah. Saya bingung harus memilih gang yang mana. Ini seperti berada di sebuah labirin dalam adegan film the Hunger Games. Saya terdiam bingung karena tidak tahu harus melangkah ke mana. Saya terkejut saat sebuah tangan halus menepuk bahu saya dari samping.
“Bu Aisyah?”
“Rama…?! Kamu mau ke mana?”
“Eeee… anu Bu. Janjian sama temen.”