Bu Aisyah memandangi saya dengan tatapan heran, saya buru-buru menunduk karena tidak berani menatap wajahnya.
“Permisi, Bu.”
Bu Aisyah mengangguk, membiarkan saya pergi. Kali ini misi saya berantakan. Saya benar-benar gagal total.
***
Dua hari berikutnya, sepulang sekolah, saya kembali membuntuti Bu Aisyah. Kali ini saya sengaja tidak diantar Mang Markum, sopir saya yang superkepo itu. Agar tidak mencurigakan, saya menyamar dengan berpakaian biasa, tidak lagi pakai seragam sekolah. Kenapa hal ini saya lakukan? Karena saya benar-benar penasaran dengan guru saya yang satu ini. Guru yang mengingatkan saya pada Bu Elliza.
Setelah melewati beberapa gang yang dua hari lalu saya lewati, Bu Aisyah kemudian menyelinap ke sebuah rumah-rumah kotak yang tidak terlalu enak di pandang mata. Dan ternyata, itu bagian dari gang lainnya. Gang itu sangat sempit. Mereka menamainya Gang Senggol. Bisa saya lihat dari nama gangnya. Ukurannya selebar tubuh orang dewasa. Jadi kalau ada seseorang lewat di ujung gang sana dan berpapasan dengan kita, kita harus saling memiringkan badan, agar kita tidak bertabrakan. Namun, tidak untuk anak-anak yang sedang berlarian main kejar-kejaran itu. Mereka tetap berlari dan berteriak saling kejar sambil tertawa-tawa, tidak peduli berpapasan dengan orang-orang yang berlawanan arah. Ada sekitar belasan meter saya harus memiringkan tubuh setelah akhirnya kembali ke tempat yang lebih luas, jalan ini ibaratnya seperti leher botol saja.
Bu Aisyah kemudian berhenti di salah satu rumah petak-petak dan saya memperhatikannya di ujung gang senggol itu.
Seorang anak berusia sekitar lima tahun menyambut dan mencium tangan Bu Aisyah. Bu Aisyah tersenyum dan memeluk anak itu, lalu terdengar percakapan keduanya.
“Kak, mana handphone-nya?”
Bu Aisyah mengeluarkan telepon genggam itu dari dalam tas, menyerahkan kepada si anak.
“Besok Kakak gak usah bawa lagi, ya?”
“Enggak bisa! Kakak harus bawa handphone ini! Nena gak mau Kakak beda dengan ibu-ibu guru lainnya yang ngajar kayak Kakak!”
“Nena, Kakak gak butuh barang itu. Kamu tahu gak, telepon genggam itu dibutuhkan oleh orang yang saling memiliki telepon genggam juga. Kalau Kakak harus bawa telepon genggam itu, memangnya Kakak buat menghubungi siapa? Kan kamu sendiri dan orang di rumah kita ini gak punya telepon genggam?”