Telepon Genggam Bu Guru Aisyah

Anak itu terdiam. Dan saya terus memperhatikannya. Mata si anak mulai basah, dia menahan tangisnya.

“Kak Aisyah janji, kalau semua utang-utang kita lunas, dan Ayah yang dipenjara sudah keluar, Kakak akan membeli telepon genggam beneran.”

“Janji ya, Kak? Soalnya Nena kepingin Kakak pake handphone. Hari gini Cuma Kakak yang gak punya handphone. Pak Kusno, Bu Rita, mereka pada pake. Mbak Jum aja yang tukang urut keliling pake handphone. Kakak juga mesti pake, ya?”

Bu Aisyah mengangguk sambil tersenyum lembut.

“Serius ya, Kak? Tapi handphone-nya yang asli, ya. Kak Aisyah gak harus berpura-pura lagi seperti selama ini, membawa telepon genggam yang sebenarnya udah mati!”

“Tapi kan yang penting Kakak bawa hape, Dik?”

“Enggak, ah. Masa Kakak harus terus pura-pura?”

***

Semua teman terkejut saat mendengar informasi dari saya, sang detektif 007 KW 10. Mereka tidak menyangka apa yang terjadi terhadap Bu Aisyah dan telepon genggamnya. Jujur saja, kami semua sangat peduli dengan Bu Guru Aisyah, meskipun sebagian dari kami bete kalau beliau selalu bertanya, “Buku apa yang sudah kalian baca pekan ini?” Ini mengingatkan saya pada Bu Elliza, yang seminggu bisa membaca satu sampai dua judul buku.

“Kita kolekan aja! Bu Aisyah itu ibu guru yang baik. Kabarnya doi bakalan gantiin jadi wali kelas kita!”

“Siap!”

Pada akhir pekan, sepulang sekolah, saya dan beberapa teman diantar Mang Mar kum mampir ke konter seluler dan membelikan telepon genggam baru buat Bu Aisyah. Saya yang menyerahkannya langsung kepada Bu Aisyah, setelah jam bubaran sekolah pada Senin lusa. Bu Aisyah tentu terkejut menerima hadiah sukarela dari saya dan teman-teman. Namun, dia tidak menolak pemberian ikhlas kami.

Dan pada hari selanjutnya, kami berharap Bu Aisyah tidak lagi membawa telepon genggamnya yang mati ke sekolah. Sengaja kami belikan telepon genggam mahal, biar guru bahasa Indonesia kami yang cantik dan keren itu tidak kalah dengan guru-guru lain. Kami juga ingin Bu Aisyah menggunakan telepon genggamnya di luar jam pelajaran sekolah, seperti guru-guru lainnya.

Arsip Cerpen di Indonesia