Telepon Genggam Bu Guru Aisyah

Namun, yang terjadi di luar perkiraan kami. Pada hari setelah menerima telepon genggam baru, Bu Aisyah ke sekolah dengan telepon genggamnya yang lama, telepon genggam yang mati dan tidak bisa dipakai menelepon itu.

Saya langsung bergegas ke rumah Bu Aisyah. Tanpa sepengetahuannya, saya tanyai adik-adik Bu Aisyah, kenapa Bu Aisyah tidak mau menggunakan telepon genggam barunya itu.

“Sejak ibu meninggal dunia, selama ini Kak Aisyah yang menghidupi kami. Kakak menjual hape baru itu untuk membayar utang. Kata Kakak, sebentar lagi utang kami lunas. Dan kami akan pindah dari tempat ini,” ujar si kecil, adik Bu Aisyah yang diam-diam saya tanyai. Saya tidak mampu berkata-kata. Saya bangga dengan kemandirian dan tanggung jawab Bu Guru Aisyah. Untuk sementara ini, barangkali dia memang belum membutuhkan telepon genggam untuk digunakan berkomunikasi.

 

Tangerang Selatan, 2018

Zaenal Radar T, selain menulis novel dan skenario TV, sesekali dia menulis cerpen untuk sejumlah media yang terbit di Jakarta. Buku kumpulan ceritanya yang telah terbit: Si Markum (Penerbit Alvabet, 2017). Blog: toekangketik.blogspot.com.

Arsip Cerpen di Indonesia