Di kampung kami, untuk lelaki seumuran dia paling tidak sudah punya cucu. Tapi jangan-jangan ia duda. Bisa juga lelaki itu memang tak berniat menikah. Ayah Cuma bisa menduga-duga.
Pada waktu itu semua desa-desa di Kepulauan Salabangka masih berada dalam pengawasan tentara pasca terjadinya kudeta PKI yang gagal. Termasuk desa kami, Gusmataha. Secara rutin anggota koramil sering mengunjungi desa-desa di sana dengan alasan melakukan pembinaan.
Suatu hari, ketika ayah sudah menjadi kepala kampung, ayah kedatangan sekelompok tentara. Mereka adalah anggota koramil yang hendak menelusuri keberadaan seorang lelaki yang menghilang dari Bungku. Menurut cerita komandan koramil kepada ayah, orang yang mereka cari kemungkinan besar bersembunyi di kampung kami. Tapi ayah bersikukuh orang yang mereka cari tidak berada di kampung kami.
Baca juga: Petang di Taman – Cerpen Iin Farliani (Padang Ekspres, 14 Oktober 2018)
“Tidak mungkin ia bersembunyi di sini komandan. Warga sayalah yang lebih dulu akan menangkapnya. Komandan kan tahu sejak dulu kami menentang paham-paham yang disebarkan kaum kiri yang progresif revolusioner itu.”
Setelah mendengar keterangan ayah, wajah komandan koramil berubah gembira dan menjadi tenang. Saat itu juga ia mengajak anggotanya pulang dan tak pernah datang lagi ke kampung kami.
Tapi sebenarnya ayah berbohong. Ayah tahu lelaki yang mereka cari ada di kampung kami. Ya, dialah Golopi. Waktu itu ayah berpikir, bagaimanapun gelapnya masa lalu lelaki dari Bungku itu, belum tentu ia terlibat kudeta gagal tersebut. Andai hari itu ayah berkata jujur mungkin Golopi tak akan hidup lama di kampung kami. Ayah merasa bersyukur karena sampai beliau berhenti menjadi kepala kampung tak ada yang tahu kalau ia telah berbohong di hadapan komandan koramil.
Baca juga: Tiomina – Cerpen Jeli Manalu (Padang Ekspres, 07 Oktober 2018)
Dari waktu ke waktu, orang-orang kampung semakin sering mengunjungi Golopi. Termasuk ayah tentu saja. Ayah sering mengobrol di rumah Golopi bersama warga lainnya seperti Abidin, Tamrin dan Habibu. Tanpa terasa anjing Golopi sekarang sudah besar. Warnanya coklat kombinasi putih di bagian perut. Selain gagah, anjing itu juga membuat takut anak-anak kecil di kampung kami. Saking populernya anjing itu, tiap kali ada anak kecil menangis atau rewel dan tak mau makan, ibu mereka tinggal menyebutnya saja dan semua anak-anak akan diam dan kembali makan dengan lahap.