Sekarang Golopi sudah dianggap keluarga oleh warga kampung kami. Lelaki itu sudah sering kelihatan mandi di sumur umum, yang selama ini tak pernah ia lakukan. Begitu juga dengan anjingnya. Ke manapun Golopi pergi anjingnya pasti ikut. Ke sumur umum, ke lapangan bola. Bahkan ia sering ikut tuannya bersama warga pergi menangkap kepiting kenari dalam gua batu di pantai ujung kampung.
Sampai saat itu, hanya satu tempat yang belum pernah didatangi Golopi: masjid desa. Tapi tak ada warga yang mempersoalkan itu. Hanya ayahku yang sesekali menggumam sendirian sepulangnya dari masjid.
Baca juga: Api Kenangan – Cerpen Latif Fianto (Padang Ekspres, 02 September 2018)
“Kenapa orang itu tidak pernah sembahyang? Padahal dia beragama Islam.” Entah berapa kali ayah mengucapkan kata-kata ini.
Suatu malam ayahku meninggalkan rumah. Katanya hendak ke pantai, memeriksa pukat yang ia pasang petang tadi. Tak lupa ia membawa tombak mata tiga, mirip trisula. Tombak semacam ini memang biasa ia pakai oleh nelayan ketika menyuluh ikan pada malam hari. Waktu itu bulan sudah turun. Kampung hampir gelap sepenuhnya. Ayah berjalan perlahan, melewati rumah-rumah penduduk yang membelakangi laut. Semuanya rumah panggung.
Tiba-tiba ayah berhenti melangkah ketika kupingnya menangkap suara tangis bayi di kejauhan. Ia teringat Abidin yang punya anak kecil. Acara selamatannya berlangsung dalam badai, pikir ayah waktu itu. Lalu ia kembali melangkah. Tombak digenggamnya lebih erat. Kebetulan pukat yang dipasang ayah memang tak jauh dari rumah Abidin, ke arah laut.
Baca juga: Togel – Cerpen Adam Yudhistira (Padang Ekspres, 19 Agustus 2018)
Ayah berjalan terus. Rumah Abidin semakin dekat. Suara tangis bayi juga semakin keras. Sekarang ayah melangkah lebih pelan namun tetap dalam kewaspadaan penuh. Ia bermaksud mengambil jalan pintas dengan cara melewati kolong rumah panggung Abidin. Tapi sekonyong-konyong, langkah ayah kembali terhenti. Tubuhnya nyaris kaku, seolah sulit ia gerakkan. Sekitar tujuh meter darinya, di bawah kolong rumah Abidin, ayah melihat sesosok makhluk yang sangat ia kenali: anjing milik Golopi. Anjing Pak Gendang. Kenapa binatang itu ada di sini? Tanya ayah dalam hati. Beberapa saat lamanya ayah terus berpikir. Ketika ayah memandang kembali hewan itu, ia melihat sesuatu yang mengerikan. Mata anjing itu sekarang berubah merah seraya terus memandang ke atas, ke celah lantai papan rumah panggung. Tangis bayi bertambah keras, sekarang malah mirip suara jerit kesakitan. Mulut anjing itu sesekali terbuka dengan lidah yang menjulur terus menerus. Ia pasti mengendus sesuatu di atas lantai papan rumah panggung itu, pikir ayah.