Anjing Pak Gendang

Ayah masih terus mengamati gerak-gerik binatang itu ketika ia sampai pada kesadaran untuk melakukan sesuatu. Tapi belum sempat ayah menarik napas berikutnya, si anjing tiba-tiba menoleh ke arahnya dan mereka bersitatap. Ayah berhenti bernapas, bulu kuduknya meremang. Ayah mencoba memanggil Abidin tapi tenggorokannya seperti tersumbat. Suaranya tak bisa keluar. Tombak dalam tangan ayah terasa lebih dingin sekarang. Ayah merasa telapak tangannya basah.

Baca juga: Penjaga Buku dan Tokoh Fiksi yang Tidak Bahagia – Cerpen Yetti A. KA (Padang Ekspres, 12 Agustus 2018)

Ketika kesadaran ayah kembali pulih mengertilah ia sekarang apa yang sedang ia hadapi. Ini makhluk jadi-jadian, pasti suruhan seseorang, pikir ayah. Ia mundur selangkah, lalu dua langkah. Anjing itu sekarang sudah melihat ayah dengan jelas dan mengikutinya keluar dari kolong. Sewaktu ayah berhenti, jarak antara dia dan anjing itu tinggal empat meter. Ayah menggenggam tombak lebih erat lagi.

Perlahan ayah mengangkat tombak sambil mengucap sepotong doa, mungkin semacam mantra. Dan tombak pun melesat menuju sasaran. Kena kau, ucap ayah dalam hati. Beberapa detik anjing itu menggeram keras, lalu melompat cepat melewati ayah yang masih terpana usai melemparkan tombak. Ayah menoleh ke belakang. Meski hanya beberapa detik, tapi ayah masih bisa melihat anjing itu serta tombak yang melekat di tubuhnya sampai ia menghilang dalam kegelapan. Ayah merasa yakin tombaknya mengenai lambung kiri anjing itu. Sambil berjalan pulang, ayah terus memikirkan kejadian barusan. Juga tombaknya yang terbawa anjing itu. Sampai di rumah ayah langsung masuk kamar, berusaha tidur tapi sampai fajar menjelang, ayah hampir-hampir tak bisa memejamkan mata membayangkan peristiwa yang ia alami beberapa jam yang lalu.

Baca juga: Petuah Parihin untuk Yulian – Cerpen Rifat Khan (Padang Ekspres, 05 Agustus 2018)

Esok harinya, pagi-pagi sekali, warga kampung kami digegerkan oleh kabar kematian Pak Gendang yang begitu mendadak. Yang aneh, anjingnya juga ikut menghilang.

“Bangun, Pak. Pak Gendang mati, anjingnya juga hilang,” kata ibuku, mencoba membangunkan ayah.

Arsip Cerpen di Indonesia