“Ayo lekas habiskan buburnya, kalau tidak ibu akan panggilkan anjing Pak Golopi baru tahu rasa. Mau kamu ibu panggilkan anjing Golopi?” Tentu saja anak-anak menggeleng ketakutan. Demikianlah para ibu menakut-nakuti anak mereka.
Yang kemudian membuat nama Golopi kian melambung adalah kemahirannya memukul gendang. Mula-mula memang terdengar biasa saja, seperti pukulan tukang gendang lainnya di kampung kami. Tapi lama-kelamaan mulai tampak perbedaannya. Baik caranya memukul maupun rentak irama yang tercipta. Benar-benar lain. Orang-orang tua yang sudah sepuh, merasakan benar perbedaan itu. Seperti mengandung kekuatan magis yang dahsyat, kata mereka. Nah, kemahiran permainan gendang Golopi mencapai klimaks tatkala Abidin, memintanya bergendang untuk menghibur tamu dalam rangka memeriahkan selamatan akikah anak bungsunya.
Baca juga: Teh Kenangan – Cerpen A. Warits Rovi (Padang Ekspres, 30 September 2018)
Baru saja acara dimulai, terjadilah hujan deras. Guntur menggemuruh, halilintar menyambar. Angin juga mengamuk dengan hebat. Waktu itu banyak pohon kelapa yang tumbang. Abidin hampir menangis karena undangan sangat sedikit yang datang. Kursi-kursi banyak yang kosong. Ketika itulah Golopi menghampiri Abidin, berbisik ke kuping lelaki itu, meminta izin untuk memainkan gendangnya. Mula-mula Abidin agak terkejut oleh permintaan yang cukup aneh itu. Tapi karena tak ada pilihan lain, ia pun setuju saja. Golopi mengambil posisi duduk bersila dengan gendang di pangkuannya. Sebelum memukul, lebih dulu ia memandang langit yang masih gelap. Lalu ia menggumamkan sesuatu, entah apa, tak ada yang tahu. Kilat masih bersabung.
Pukulan pertama ia ayunkan dengan hikmat sepenuh perasaan. Irama dan tempo ia naikkan perlahanlahan. Kemudian terdengarlah irama gendang yang aneh, khususnya di kuping para lelaki tua. Hanya mereka yang kenal irama semacam itu. Dan mereka tahu, saat itu Golopi sedang melakukan ritual mengusir angin dan hujan. Tempo pukulan terus meningkat tapi tetap dalam ritme yang teratur. Sebagian warga hanya bisa mendengar irama gendang itu dari rumah mereka masing-masing karena hujan dan angin hari itu. Dan mereka mengira suara gendang yang mereka dengar dimainkan oleh dua orang atau lebih.
Baca juga: Karomah Sebatang Lidi – Cerpen Zainul Muttaqin (Padang Ekspres, 09 September 2018)
Ketika sampai pada pukulan terakhir, hujan dan angin juga berhenti dengan tiba-tiba. Orang-orang tercengang, setengah terpana menyaksikan kejadian yang sama sekali tidak mereka sangka-sangka. Semua mata sekarang terarah kepada Golopi yang sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Kepada Abidin ia minta segelas air putih dan meneguknya sampai habis. Sejak itulah warga kampung memanggilnya Pak Gendang.