Pak Ali Shodiqin merupakan guru honorer di sekolah itu. Beliau sudah mengabdi puluhan tahun. Guru yang ikhlas dan telaten ini telah berhasil meluluskan ratusan bahkan ribuan murid di sekolah ini. Ia merupakan sosok guru yang terkenal sabar dan ikhlas. Ia selalu memberi teladan yang baik bagi para muridnya.
Beliau bukan sosok yang minder. Pak Ali selalu tampil percaya diri di tengah guru lain yang status karirnya lebih baik daripada dirinya. Beliau ikhlas menjadi honorer dengan gaji yang kurang dari cukup. Beliau tidak pernah ngoyo-ngoyo agar bisa menjadi guru berstatus PNS seperti teman-temannya. Pak Ali sosok yang pandai mensyukuri nikmat Tuhan. Sosok yang bisa nerimo ing pandum dari Allah. Orang yang qanaah dan istiqamah.
Baca juga: Jampi-Jampi Warisan Leluhur – Cerpen Mawan Belgia (Radar Banyuwangi, 14 Oktober 2018)
Di musala sekolah para murid duduk sambil berbaris rapi. Mereka serius mendengarkan nasihat-nasihat yang disampaikan Pak Ali sambil mencatat nasihat-nasihat penting yang disampaikan oleh guru senior itu. Beliau menjelaskan tentang pentingnya mencari ilmu. Menurutnya, ilmu akan membawa seseorang pada kemuliaan.
“Kemuliaan seseorang bukan dari pangkat dan harta. Kemuliaan seseorang itu bukan dari gaji yang mereka terima. Bukan dari kendaraan yang ditumpangi setiap hari. Seseorang dikatakan mulia apabila ia berilmu tinggi. Dengan ilmu derajat seseorang akan diangkat oleh Allah,” kata Pak Ali Shodiqin di hadapan wajah-wajah lugu muridnya.
Baca juga: Berkabung – Cerpen Faruqi Umar (Radar Banyuwangi, 07 Oktober 2018)
Dua jam Pak Ali Shodiqin berceramah di hadapan anak-anak. Beliau mengaso sejenak untuk sekadar meminum segelas air yang dibawanya dari kantor. Tangan kanannya merogoh saku guna mengambil selembar tisu. Beliau mengusap peluh yang mulai muncul di pelataran wajahnya yang agak keriput.
“Anak-anak, kalian istirahat dulu selama setengah jam. Nanti setelah istirahat, kalian masuk ke sini lagi,” kata Pak Ali.
“Baik, Pak Guru,” jawab para murid menyanggupi permintaan dari Pak Ali.