Baca juga: Api Kenangan – Cerpen Latif Fianto (Radar Banyuwangi, 02 September 2018)
“Bagaimana kabar kalian?” sapa Pak Syahril Ma’ruf kepada murid-muridnya.
Para murid menjawab dengan serempak. Mereka sangat antusias menimpali pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh para guru mereka dengan jawaban Alhamdulillah.
“Anak-anak, perlu saya sampaikan hasil dari demonstrasi yang kami lakukan beberapa hari ini. Tuntutan kami tidak diterima oleh mereka. Nasib status kami semakin tidak jelas. Maka dari itu, berdasarkan hasil kesepakatan para guru yang ikut berdemonstrasi tadi, mulai besok sampai waktu yang belum ditentukan, kami mogok mengajar,” kata Pak Syahril yang diangguki oleh guru-guru yang senasib dengan Pak Syahril.
Baca juga: Musim Panen dan Hewan Kurban – Cerpen Ali Satri Efendi (Radar Banyuwangi, 26 Agustus 2018)
“Hah, mogok mengajar?! Jam kosong lagi, Pak. Bosan, Ah! Padahal, minggu depan jadwalnya sudah ulangan,” celetuk Zuhdi Ali, siswa rajin di sekolah itu.
“Kalian belajar bersama Pak Ali Shodiqin seperti ini lagi,” imbuh Pak Syahril sambil melihat ke arah Pak Ali.
Pak Ali mengangguk. Beliau ikhlas mendapat tugas tambahan dari para guru honorer yang sedang memperjuangkan nasibnya itu. Beliau siap mengisi jam-jam kosong sampai waktu yang tidak ditentukan agar anak-anak pulang mendapatkan ilmu dari sekolah. (*)
Pucuk, September 2018
Ahmad Zaini, lahir di Lamongan, 7 Mei 1976. Karya sastranya baik berupa cerpen maupun puisi pernah dimuat oleh beberapa media massa. Salah satu cerpennya yang berjudul “Bayang-bayang Pernikahan Nggotong Omah” meraih Juara Harapan I pada Sayembara Penulisan Prosa (cerpen) dalam rangka Festival Panji Nusantara 2018. Novel perdananya berjudul “Mahar Cinta Berair Mata” (Pustaka Ilalang, 2017). Saat ini berdomisili di Wanar, Pucuk, Lamongan, Jawa Timur.