Jam Kosong

Setiap tanggal muda Pak Ali Shodiqin dan para guru yang lain akan menerima gaji. Mereka dipanggil oleh bendahara sekolah ke kantor. Mereka duduk untuk mengantre menerima gaji dengan wajah ceria. Mereka sangat bangga karena sebentar lagi akan menerima gaji meskipun uang gajinya tidak dibungkus amplop. Satu per satu mereka dipanggili bendahara. Mereka menerima gaji itu tanpa dihitung nominalnya. Mereka langsung memasukkan gaji ke dalam saku celana begitu saja.

Dari sekian puluh guru di sekolah ini, Pak Ali merupakan guru yang paling tua. Dia bisa membandingkan kesejahteraan guru zaman dulu dan guru zaman sekarang. Kalau guru zaman dulu tidak menerima gaji secara rutin merupakan hal biasa. Terkadang dua, tiga bulan mereka belum menerimanya. Meski begitu, guru tetap datang mengajar. Sekarang ini guru digaji secara rutin. Mereka juga menerima tunjangan profesi pendidik selain gaji pokok yang diterimanya. Kesejahteraan mereka meningkat tajam, namun kinerjanya semakin menurun.

Baca juga: Marto Timpal dan Kisah Pohon Ipik – Cerpen Eko Setyawan (Radar Banyuwangi, 16 September 2018)

Lamunan Pak Ali Shodiqin buyar ketika anak-anak mulai dari kelas satu sampai kelas enam sudah kembali ke musala sekolah. Beliau duduk di depan dampar sambil memperhatikan wajah-wajah muridnya yang lugu.

“Ke mana Sya’ban Habib?” tanya Pak Ali Shodiqin yang melihat muridnya tersebut belum datang bersama mereka.

“Tadi Sya’ban pulang. Ia menangis setelah berkelahi dengan Syafiq,” jawab salah satu murid melaporkan peristiwa yang terjadi saat jam istirahat.

“Benar Syafiq?” tanya Pak Ali.

“Benar, Pak Guru. Saya minta maaf, saya khilaf!” pinta Syafiq.

Baca juga: Kisah Cinta Paling Sederhana di Dunia – Cerpen Zyadah (Radar Banyuwangi, 09 September 2018)

Pak Ali menegur dan menasihati Syafiq dan teman-temannya agar kejadian itu tidak terulang lagi.

***

Menjelang jam pulang, guru-guru yang ikut demonstrasi menuntut pengangkatan CPNS datang. Mereka berombongan dengan menggunakan mobil salah satu guru di sekolah itu. Para siswa menyambut kedatangan mereka dengan bersorak-sorai.

“Hore, Pak Guru datang!” sambut mereka sambil berjingkrak-jingkrak kegirangan.

Para guru yang baru datang langsung menuju ke musala sekolah. Mereka menemui Pak Ali Shodiqin dan murid-muridnya yang sudah bersiap-siap pulang.

Arsip Cerpen di Indonesia