Dalam sekejap para murid sudah keluar dari musala. Pak Ali Shodiqin tinggal sendirian di dalam musala. Sesekali beliau menyandarkan kepalanya di atas dampar atau bangku kecil di depannya. Beliau sebenarnya sangat kelelahan karena setiap hari mengurus ratusan murid sekolah itu sendirian. Saking lelahnya, terkadang beliau berselonjor sambil memijit-mijit kedua kakinya.
Pak Ali berdiri di depan jendela musala. Pandangannya mengarah kepada murid-muridnya yang berteduh di bawah tanaman perdu sambil menikmati jajanan yang mereka beli. Pak Ali Shodiqin kasihan kepada mereka. Para muridnya bersusah payah datang ke sekolah untuk belajar, akan tetapi guru-guru mereka tak satu pun ada yang datang. Hal ini disebabkan para guru yang masuk database sebagai guru honorer lebih memilih berdemonstrasi menuntut pada pejabat agar diangkat menjadi CPNS. Mereka lebih mementingkan nasib dirinya daripada nasib murid-muridnya.
Baca juga: Lima Renjana – Cerpen Jihan Nabila Yusmi (Radar Banyuwangi, 30 September 2018)
Beberapa hari ini, murid-murid hanya melalui jam kosong. Mereka tidak pernah belajar bersama guru-guru sebagaimana biasanya. Mereka datang, bermain, lalu pulang. Buku-buku mereka juga kosong. Tak ada catatan pelajaran dan tugas-tugas yang diberikan guru. Untunglah di sekolah ini ada Pak Ali Shodiqin. Beliau yang mengisi jam kosong karena ditinggal guru lainnya yang mengikuti demonstrasi.
Pak Ali heran pada guru-guru sekarang ini. Mereka seperti tidak seratus persen mengabdi di lembaga pendidikan. Dalam pengabdian, guru tidak selayaknya memprioritaskan materi atau gaji yang mereka terima setiap bulan. Mestinya, berapa pun gaji yang mereka terima harus disyukuri.
Baca juga: Perkawinan Akhirat – Cerpen Mukti Sutarman Espe (Radar Banyuwangi, 23 September 2018)
Dia mengingat waktu dulu. Waktu awal-awal ia menjadi guru. Setiap hari ia harus berjalan kaki melewati jalan becek dan berlumpur menuju ke sekolah. Pak Ali terpaksa melepas sepatunya. Sepasang sepatunya lalu dibungkus dengan tas kresek. Tangan kanan memegang buku, sedangkan tangan kirinya menenteng tas kresek yang berisi sepatunya.
Sesampai di sekolah ia menuju ke sumur. Pak Ali membersihkan kakinya yang terbalut lumpur. Setelah bersih, sepatu langsung dikenakan meski kakinya masih basah. Walhasil, dia merasa gatal-gatal di sela-sela jemari kakinya. Kakinya rangen terkena jamur. Semua itu dilakukan karena semata-mata ingin mengabdi untuk mencerdaskan anak bangsa.