Paket Terakhir

Alamat di paket itu menuju ke sebuah apartemen kecil di pinggir Kota Tokyo. Beberapa lansia terlihat sedang menjemur pakaian di luar jendela apartemen. Dengan cepat, aku berkesimpulan bahwa ini adalah apartemen bersubsidi yang disediakan pemerintah untuk para pensiunan.

“Ting tong! Sumimashen (permisi),” kupencet bel di sebelah pintu. Tidak ada jawaban atau tanda keberadaan pemilik rumah. Aku sudah bersiap untuk menaruh paket tersebut di kotak pos, sebelum kemudian sebuah suara langkah diseret dan gagang diputar terdengar dari balik pintu.

Baca juga: Di Tengah Desing Mesiu – Cerpen Masriadi Sambo (Republika, 04 November 2018)

“Gomenashai (maaf), tadi saya di kamar mandi,” seorang wanita berusia 70-an muncul dari balik pintu sambil merunduk meminta maaf. “Daijobu (tidak apa-apa), ini ada paket untuk Anda,” aku berusaha tetap tersenyum.

“Arigatou! Eh tunggu dulu, apakah Anda orang Indonesia?” sambil memperbaiki posisi ka camatanya, nenek tersebut memandangi wajahku dari dekat.

Dilihat dan ditanya seperti itu tentu saja membuatku terkejut dan jengah. “Haik, saya orang Indonesia,” aku mengangguk.

Baca juga: Pertunjukan Monolog – Cerpen Latif Fianto (Republika, 28 Oktober 2018)

“Sugoi nee (luar biasa)! Saya juga orang Indonesia, nama saya Sumini,” nenek itu berteriak girang sambil menyalami tanganku dan mulai berbicara dengan bahasa Indonesia. Pantas saja aku merasa wajah nenek tersebut berbeda dengan orang Jepang pada umumnya.

“Nama saya Joko!” Aku tersenyum canggung, bingung harus bereaksi seperti apa dalam situasi seperti ini.

Arsip Cerpen di Indonesia