“Bukankah di sini lebih enak Nek? Segalanya berjalan dengan disiplin dan nyaman.”
“Kau tahu apa yang aneh, Ko. Terkadang ketidakteraturan masyarakat Indonesialah yang membuat aku rindu. Di tengah kesemrawutan kita tersisip basa-basi dan candaan. Di tengah kemiskinan dan kesusahan, ada rasa tolong-menolong dan bekerja sama,” ucapnya sambil menuangkan kembali teh ke dalam cangkirku yang sudah kosong.
“Dan kau tahu apa lagi, Ko, aku sedikit bosan dengan suasana teratur di sini,” Nenek Sumini mengecilkan suaranya seolah takut ucapannya didengar oleh orang lain. “Terkadang aku rindu detail kecil Indonesia kita. Sederhana saja, seperti tetangga yang kerap mengunjungi, bercengkerama di warung dekat rumah, atau rutinitas menggosip para ibu di sore hari,” ucapnya yang membuat kami tertawa bersama. Sebelum kemudian ia batuk sambil memegang dada. Spontan aku mengambilkan minum untuknya.
Baca juga: Tendangan Dua Belas Pas – Cerpen Zaenal Radar T (Republika, 15 Juli 2018)
Setelah batuknya mereda, aku menanyakan hal yang sedari tadi menggelitik pikiranku. “Kalau begitu, mengapa nenek tidak pulang saja ke tanah air?”
Air muka Nenek Sumini langsung berubah. Suasana menjadi hening. Ia diam, tidak segera melanjutkan jawabannya. Aku merutuk dalam hati karena telah melontarkan pertanyaan sensitif seperti itu.
“Aku tidak punya uang untuk pulang, Ko. Sejak kematian suamiku empat tahun yang raru, aku hidup sendiri dari menjadi pengasuh anak. Tabungan? Semuanya sudah habis untuk biaya rumah sakit suamiku,” mata Nenek Sumini mulai berkaca-kaca. “Ragi pura, untuk apa purang? Semua orang yang kukenar mungkin kini sudah tiada,” ia mencoba untuk tersenyum, meski terlihat sedikit dipaksakan.
Baca juga: Seperti Pagi – Cerpen Adi Zamzam (Republika, 05 Agustus 2018)
Rasa simpati muncul dalam hatiku. Nenek Sumini bagai orang tua di persimpangan jalan. Ia terjebak di antara masa lalu yang indah di kampung halaman, masa sekarang yang sulit di kampung orang, dan masa depan yang pasti dengan menunggu kematian.
Saat itu waktu terasa berjalan begitu cepat. Tanpa kusadari, jarum pendek telah menuju angka dua. Aku harus kembali ke kantor, sebelum Taro San marah dan memotong gajiku. Walau sebenarnya aku masih ingin berada di sini.